Juwita VJ Glory Anggraini

Berhenti mengecam kegelapan, Nyalakan lilin!! Sekarang

Riwayat & Pemikiran John Locke

Posted Wednesday, May 30th, 2012

Riwayat & Pemikiran John Locke

John Locke dilahirkan pada tanggal 28 Agustus 1632 di Wrington, Somerset. Dan meninggal 28 Oktober 1704 Keluarganya berasal dari kelas menengah dan ayahnya memiliki beberapa rumah dan tanah di sekitar Pensford, sebuah kota kecil di bagian selatan Bristol. Selain bekerja sebagai pemilik tanah, ayah Locke bekerja juga sebagai pengacara dan melakukan tugas-tugas administratif di pemerintahan lokal.

Dia memperoleh pendidikan di Universitas Oxford, peroleh gelar sarjana muda tahun 1656 dan gelar sarjana penuh tahun 1658. John Locke adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Selain itu, di dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal sebagai filsuf negara liberal. Bersama dengan rekannya, Isaac Newton, Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting di era Pencerahan. Selain itu, Locke menandai lahirnya era Modern dan juga era pasca-Descartes (post-Cartesian), karena pendekatan Descartes tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan di dalam pendekatan filsafat waktu itu. Kemudian Locke juga menekankan pentingnya pendekatan empiris dan juga pentingnya eksperimen-eksperimen di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Empirisme John Locke

Pandangan empiris John Locke dimulai dengan catatan dengan idea-idea “segala sesuatu objek dari pemahaman ketika seseorang mulai berpikir”.  Idea-idea muncul dari pengalaman bukan darri bawaan lahir. Locke berpendapat bahwa pengalaman sendiri terdiri dari dua tipe. Ketika mata, telinga, jari-jari, dan lidah kita dipengaruhi oleh objek fisik, pikiran-pikiran kita dilengkapi dengan idea-idea dari objek-objek yang dapat dirasakan. Ketika pikiran kita mereleksikan idea-idea yang muncul yaitu ketika kita berpikir, meragukan, memepercayai, dan sebagainya. Pikiran kita dilengkapi seperangkat idea-idea dari refleksi. Semua idea-idea muncul dari dua sumber ini. Pertama, perjumpaan dengan objek-objek yang dapat dirasakan ini menyediakan pemahaman dengan idea-idea sensasi. Kedua, sebuah pertimbangan atas operasional pikiran sendiri menyediakan pemahaman dengan idea-idea refleksi.

Empirisme Locke fibangun diatas suatu prinsip tunggal dan serba guna: Semua pengetahuan berawal dari pengetahua. Ini diklaimnya adalah masalah “akal sehat”, yang dilawankan dengan keiddakjelasan Skolastik dan skema-skema rumit para rasionalis (Descartes, Spinoza, dan Leibniz). Amun demikian, Locke menerima metafora sentrla Cartesian, perbedaan antara pikiran dan tubuh, dan oleh karena itu, ia memandang bhwa pengetahuan pertama-tama berkenaan dengan pemeriksaan pikiran. Locke menyarankan bahwa pikiran adalah suatu potongan kayu kosong, yang akan ditulisi oleh pengalaman disepanjang kehidupan seseorang. Para rasionalis berargumen untuk sejumlah ide bawaan yang jelas. Sebaliknya, Locke menyarankan bahwa pikiran lebih mirip suatu kamr kecil yang kosong, yang diterangi hanya melalui cahaya yang masuk dari luar.

Locke menjelaskan bahwa ketika Anda menganalisis simpanan idea-idea Anda sendiri, Anda berani untuk menunjukkan kepada seseorang sesuatu yang tak muncul dari sensasi maupun refleksi. Bertolak pada pertimbangan anak-anak, ia berpendapat bahwa sebuah langkah komulatif dimana seorang anak belajar dai teori-teori empiris ternyata lebih baik dari pada doktrin tentang idea-idea bawaan. Apa yang mereka pahami secara perlahan adalah fungsi dari apa yang merka alami. Akhirnya, Locke menekankan bahwa orang-orang memiliki-idea-idea yang berbeda. Hal ini tergantung pada objek yang mereka lihat.

Akal semacam tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil pengindraan. Hal ini berarti bahwa semua pengetahuan manusia -betapa pun rumitnya- dapat dilacak kembali sampai pada pengalaman-pengalaman indrawi yang telah tersimpanan rapi di dalam akal. Jika terdapat pengalaman yang tidak tergali oleh daya ingatan akal, itu berarti merupakan kelemahan akal, sehingga hasil pengindraan yang menjadi pengalaman manusia tidak lagi dapat diaktualisasikan. Dengan demikian, bukan lagi sebagai ilmu pengetahuan yang faktual. Ia berpikir bahwa keseluruhan dari hal-hal ini akan mendorong Anda untuk masuk kedalam aturan empirisme.