Juwita VJ Glory Anggraini

Berhenti mengecam kegelapan, Nyalakan lilin!! Sekarang

Struktur sosial, Status sosial, Peran sosial serta Stratifikasi sosial!

Posted Wednesday, May 23rd, 2012

Dalam sosiologi makro membahas mengenai struktur sosial. Menurut ilmu sosiologi, struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.

Ciri – ciri struktur sosial antara lain :

Ä  Bersifat abstrak

Ä  Terdapat dimensi vertikal dan horizontal

Ä  Sebagai landasan sebuah proses sosial suatu masyarakat

Ä  Bagian dari sistem pengaturan tata kelakuan dan pola hubungan masyarakat

Ä  Selalu berkembang dan dapat berkembang

Fungsi struktur sosial dalam masyarakat :

Ä  Social Control (pengawasan sosial) : Artinya struktur sosial merupakan penekan terhadap adanya pelanggaran nilai dan norma masyarakat sehingga disiplin kelompok dapat dipertahankan

Ä  Discipline Control (disiplin sosial) : Agar masyarakat tahu cara bersikap dan bertindak sesuai dg harapan dan ketentuan masyarakat.

Konsep dasar struktur sosial ada dua yaitu mengenai Status sosial dan Peranan sosial

  1. a. Status Sosial

Status sosial adalah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok masyarakat (meliputi keseluruhan  posisi sosial yang terdapat dalam kelompok masyarakat). Status dibagi menjadi 3 :

1) Ascribed Status

Status yang diberikan kepada seseorang oleh masyarakat tanpa memandang bakat/karakteristik unik orang tersebut (didapat secara otomatis melalaui kalahiran/keturunan .

Contoh : Keturunan kerajaan, Kasta.

2) Achieved Status

Status yang didapat seseorang karena usaha-usahanya sendiri, seseorang harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan stetusnya, seperti bersekolah, berketrampilan, menciptakan sesuatu yang baru. Status yang diperoleh melalui perjuangan.

Contoh : mahasiswa, dokter, hakim, guru, dll.

3) Assigned Status

Status yang diberikan kepada seseorang karena telah berjasa melakukan sesuatu untuk masyarakat.

Contoh : Peraih gelar Doktor HC, Pahlawan, Peraih Nobel dll.

  1. b. Peran Sosial

Peran sosial adalah seperangkat harapan terhadap seseorang yang menempati suatu posisi/status sosial. Contoh : Pak Narji adalah seorang polisi, beliau mendapati anaknya sebagai tersangka dalam kasus narkoba. Pak Narji harus melakukan perannya sebagai polisi, walaupun bila berada di rumah, beliau berperan sebagai seorang ayah bagi anaknya tersebut. Peran sosial memiliki beberapa fungsi bagi individu maupun orang lain. Fungsi tersebut antara lain:

  1. Peranan yang dimainkan seseorang dapat mempertahankan kelangsungan struktur masyarakat, seperti peran sebagai ayah atau ibu.
  2. Peranan yang dimainkan seseorang dapat pula digunakan untuk membantu mereka yang tidak mampu dalam masyarakat. Tindakan individu tersebut memerlukan pengorbanan, seperti peran Relawan, dokter, perawat, pekerja sosial, dsb.
  3. Peranan yang dimainkan seseorang juga merupakan sarana aktualisasi diri, seperti seorang lelaki sebagai suami/bapak, seorang wanita sebagai isteri/ ibu, seorang seniman dengan karyanya, dsb

Konflik Status dan Peran

Status dan peranan seseorang sangat penting di dalam masyarakat. Setiap individu pasti memiliki status sosial masing-masing didalam masyarakat. Status sosial merupakan pencerminan akan hak dan kewajiban yang harus dijalankan oleh individu. Status sosial bisa juga dikatakan sebagai kedudukan individu didalam masyarakat. Dalam situasi tertentu terkadang individu memiliki lebih dari satu status yang dimilikinya. Apabila status yang dimilikinya bertentangan antara satu dengan yang lainya, maka akan terjadi benturan atau pertentangan dan hal itulah yang sering disebut dengan konflik status.

Dengan adanya status sosial maka secara bersamaan individu memiliki peran yang harus dijalankan sebagai perwujudan dari status yang dimilikinya. Peranan sosial merupakan suatu hal yang sangat penting dimana hal itu akan menentukan perilaku dirinya dan oranng lain. Sama halnya dengan status sosial, individu dapat melakukan dua peranan sekaligus dalam waktu yang sama. Konflik peran juga dapat terjadi apabila individu merasa dirinya kurang mampu menjalankan kedua perannya secara maksimal.

Didalam masyrakat,banyak individu yang mengalami konflik status dan konflik peran. Seperti yang saya amati disekitar tempat tinggal. Seorang perempuan yang telah berumah tangga, ia bekerja di sebuah Bank Swasta. Disamping statusnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga yang kewajibannya mengabdi pada suami dan menjalankan kegiatan yang berhubungan sebagai seorang ibu rumah tangga,seperti memasak,merawat anak dan suaminya.Ia juga sebagai seorang karyawati yang harus taat pada prosedur dan peraturan kerja di kantornya tersebut. Ia harus masuk sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan oleh kantornya bahwa jam masuk kantor adalah pukul 07.30 dan jam kerja berakhir pada pukul 16.30 WIB. Disisi lain ia harus menyelesaikan tugasnya di rumah mulai dari menyiapkan makan,bersih-bersih,merawat anak, dan lain sebagainya. Tentu saja ia tidak dapat melakukan peran sesuai dengan status yang dimilikinya, disinilah terjadi konflik status antara bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Sehingga ia menyewa jasa pengasuh anak untuk membantunya mengasuh anak-anaknya dan mempercayakan pekerjaan rumah pada seorang pembantu rumah tangga. Intensitas pertemuan antara suami dengan istrinya menjadi sangat terbatas, begitu pula dengan hubungan antara ibu dan anak-anaknya. Suatu saat anaknya sedang sakit tetapi ia mempunyai kewajiban untuk masuk kerja. Disinilah terjadi konflik peran, yaitu antara menemani dan merawat anaknya yang sedang sakit dan meninggalkan kewajibannya atau sebaliknya.

  1. c. Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial menurut Max Weber adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi status sosial.

  1. Kriteria Penggolongan Pelapisan Sosial :

a. Ukuran kekayaan.

b. Ukuran kekuasaan.

c. Ukuran kehormatan.

d. Ukuran ilmu pengetahuan

  1. Sifat Pelapisan Sosial :

a. Tertutup (closed social stratification) membatasi kemungkinan untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain. Contoh sistem kasta pada masyarakat feodal, masyarakat apartheid.

b. Terbuka (opened social stratification), setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan sosial lebih tinggi. Contoh masayarakat pada negara-negara industri maju.

c. Campuran, adalah kombinasi terbuka dan tertutup dan ini sering terjadi dalam masyarakat. Misalnya untuk hal-hal tertentu bersifat terbuka, tetapi untuk hal-hal tertentu yang lain bersifat tertutup

  1. Fungsi Stratifikasi Sosial :

Ä  1) Alat untuk mencapai tujuan.

Ä  2) Mengatur dan mengawasi interasksi antar anggota dalam sebuah sistem stratifikasi.

Ä  3) Stratifikasi sosial mempunyai fungsi pemersatu.

Ä  4) Mengkategorikan manusia dalam stratum yang berbeda.

Interaksi sosial, syarat terjadinya interaksi sosial, bentuk-bentuk interaksi sosial!

Interaksi sosial adalah suatu hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan kelompok. Syarat – Syarat Terjadinya Interaksi Sosial. Interaksi sosial dapat berlangsung jika memenuhi dua syarat di bawah ini, yaitu:

  1. Kontak sosial

Kontak sosial merupakan aksi individu atau kelompok dalam bentuk isyarat yang memiliki makna bagi si pelaku dan si penerima dan si penerima membalas aksi itu dengan reaksi.

b. Komunikasi

Arti penting dari komunikasi tersebut adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (berwujud pembicaraan, gerak gerak badaniah atau sikap), perasaan perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Sehingga komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses penyampaian pesan pesan dari seseorang yang berfungsi sebagai komunikator kepada orang lain sebagai komunikan yang menggunakan saluran tertentu.

Bentuk Interaksi Sosial

Interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu:

1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk – bentuk asosiasi seperti :

a. Kerja sama

Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

b. Akomodasi

Adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok – kelompok manusia untuk meredakan pertentangan.

c. Asimilasi

Adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.

d. Akulturasi

Adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur – unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur – unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari

kebudayaan itu sendiri.

2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk – bentuk pertentangan atau konflik, seperti :

a. Persaingan

Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.

b. Kontravensi

Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang – terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur – unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.

c. Konflik

Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi: Edisi kedua. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Soerjono, Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Horton B. Paul dan Hunt L. Chester. 1996. Sosiologi. Jakarta: ERLANGGA.