Juwita VJ Glory Anggraini

Berhenti mengecam kegelapan, Nyalakan lilin!! Sekarang

DESKRIPTIF KUALITATIF

Posted Friday, March 29th, 2013

DESKRIPTIF KUALITATIF

Penelitian deskriptif kualitatif merupakan bagian dari penelitian kualitatif.  Deskriptif kualitatif merupakan metode yang digunakan untuk membedah suatu fenomena di lapangan. Penelitian deskriptif kualitatif adalah metode yang menggambarkan dan menjabarkan temuan di lapangan. Metode deskriftif kualitatif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian degan metode ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi.

Penelitian deskriptif ditujukan untuk mengumpulkan informasi secara aktual dan terperinci, mengidentifikasikan masalah, membuat perbandingan atau evaluasi, dan menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.

Metode penelitian kualitatif adalah metode untuk menyelidiki obyek yang tidak dapat diukur dengan angka-angka ataupun ukuran lain yang bersifat eksak. Penelitian kualitatif juga bisa diartikan sebagai riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Penelitian kualitatif jauh lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Teknik pengumpulan data kualitatif diantaranya adalah interview (wawancara), quesionere (pertanyaan-pertanyaan/kuesioner), schedules (daftar pertanyaan), dan observasi (pengamatan, participant observer technique), penyelidikan sejarah hidup (life historical investigation), dan analisis konten (content analysis). Metode kualitatif ada 4 macam :

a. Metode Historis

Yaitu metode yang menggunakan analisa atau peristiwa-peristiwa dalam masa silam kemudian dijadikan sebagai prinsip-prinsip yang bersifat umum. Contohnya adalah

b. Metode Komparatif/Metode Perbandingan

Yaitu metode yang mempergunakan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dalam persamaan-persamaan, kemudian untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk mengenai perikelakuan manusia dalam masyarakat.

c. Metode Historis Komparatif

Yaitu metode yang dipergunakan untuk meneliti masyarakat pada masa silam dan masa sekarang.

d. Metode Case Study / Studi Kasus

Yaitu metode yang dipergunakan dengan tujuan untuk mempelajari sedalam-dalamnya salah satu gejala yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Obyeknya adalah keadaan kelompok-kelompok dalam masyarakat, lembaga-lembaga masyarakat, maupun individu-individu dalam masyarakat. (Sri W. dan Sutapa Mulya, 2007)

Penelitian deskriptif kualitatif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial. Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang lengkap sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah. Metode penyelidikan deskriptif tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang. Metode ini menuturkan, menganalisa, dan mengklasifikasi ; menyelidiki dengan teknik survey, interview, angket, observasi, atau dengan teknik test ; studi kasus, studi komperatif, studi waktu dan gerak, analisa kuantitatif, studi kooperatif atau operasional. Bisa disimpulkan bahwa metode deskriptif ini ialah metode yang menuturkan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang dialami, satu hubungan, kegiatan, pandangan, sikap yang menampak, atau tentang satu proses yang sedang berlangsung, pengaruh yang sedang bekerja, kelainan yang sedang muncul, kecenderungan yang menampak, pertentangan yang meruncing, dan sebagainya.

Pelaksanaan metode-metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang arti data itu. Karena itulah maka dapat terjadi sebuah penyelidikan deskriptif, membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu lalu mengambil bentuk studi komperatif ; atau mengukur sesuatu dimensi seperti dalam berbagai bentuk studi kuantitatif, angket, test, interview, dan lain-lain. Ciri-ciri metode deskriptif itu sendiri adalah memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah-masalah yang aktual, kemudian data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, dan kemudian dianalisa (karena itu metode ini sering pula disebut metode analitik). Sifat-sifat lainnya adalah sama seperti pada setiap metode penyelidikan secara umum. Untuk memperoleh hasil sebesar-besarnya, seorang penyelidik umumnya mengusahakan agar :

1. Menjelaskan setiap langkah penyelidikan deskriptif itu dengan teliti dan terperinci, baik mengenai dasar-dasar metodologi maupun mengenai detail teknik secara khusus.

2. Menjelaskan prosedur pengumpulan data, serta pengawasan dan penilaian terhadap data itu.

3. Memberi alasan yang kuat mengapa dalam metode deskriptif tersebut penyelidik mempergunakan teknik tertentu dan bukan teknik lainnya. (Winarno, 1994)

Pengertian penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti (Taylor dan Bogdan, 1984:5). Penelitian kualitatif yang berakar dari ‘paradigma interpretatif’ pada awalnya muncul dari ketidakpuasan atau reaksi terhadap ‘paradigma positivist’ yang menjadi akar penelitian kuantitatif. Dipandang dari sudut pendekatan dan proses penelitiannya, penelitian kualitatif memiliki karakteristik khusus sebagai berikut :

1. Bersifat induktif

Mendasar pada prosedur logika yang berawal dari proposisi khusus sebagai hasil pengamatan dan berakhir pada suatu kesimpulan (pengetahuan baru) hipotesis yang bersifat umum.

2. Melihat pada setting dan manusia sebagai suatu kesatuan

Mempelajari manusia dalam konteks dan situasi dimana mereka berada, manusia dan setting dilihat sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan.

3.  Memahami perilaku manusia dari sudut pandang mereka sendiri (sudut pandang yang diteliti)

Dilakukan dengan cara melakukan empati pada orang-orang yang diteliti dalam upaya memahami bagaimana mereka melihat berbagai hal dalam kehidupannya.

4. Lebih mementingkan proses penelitian daripada hasil penelitian.

5. Menekankan pada validitas data sehingga ditekankan pada dunia empiris.

6.  Bersifat humanistis

Memahami secara pribadi orang yang diteliti dan ikut mengalami apa yang dialami orang yang diteliti dalam kehidupannya sehari-hari.

7. Semua aspek kehidupan sosial dan manusia dianggap berharga dan penting untuk dipahami karena dianggap bersifat spesifik dan unik. (Bagong Suyanto dan Sutinah, 2006)

Dalam penelitian kualitatif terjadi tiga alur kegiatan untuk mendapatkan data yang valid, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

1. Reduksi data:

Reduksi dapat diartikan sebagai proses memilah, memusatkan, dan menyederhanakan data yang baru diperoleh dari penelitian yang masih mentah yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi dilakukan terus menerus ketika pengumpulan data masih dilakukan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, memperjelas data yang diperoleh dan membuang data yang tidak dibutuhkan. Tujuan dari reduksi data ini adalah untuk mendapatkan data yang lebih mudah untuk diolah.

2. Penyajian Data:

Proses kedua setelah reduksi data adalah penyajian data. Sekumpulan data yang diperoleh disajikan dalam bentuk text naratif yang berguna untuk mempermudah dalam proses analisa data dan penarikan kesimpulan. Dengan melihat data yang sudah disajikan, peneliti harus memahami apa yang sedang terjadi pada objek penelitiaannya dan peneliti harus tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.

3. Penarikan Kesimpulan:

Kegiatan analsis ketiga yang penting setelah kedua kegiatan analisis di atas adalah penarikan kesimpulan. Dari permulaan pengumpulan data, seorang peneliti telah mencari pola-pola, anomali-anomali, dan gejala-gejala pada objek penelitiannya, maka pada tahap ini peneliti harus menarik kesimpulan atas objek kajiaannya. Kesimpulan atas hasil penelitian adalah hasil akhir atau klimaks dari penelitian yang telah dilakukan.

.

DAFTAR  PUSTAKA

Bagong Suyanto dan Sutinah. 2006. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Kencana

Jalaluddin, Rakhmat. 2007. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rosady, Ruslan. 2003. Metode penelitian PR dan komunikasi. Jakarta: Rajawali     press.

Surakhmad, Winarno. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito

Preface

With gratitude the presence of God the almighty one so I can complete research tasks about “The Phenomenon of Child Beggars in Surakarta”. We all know that beggar an emerging phenomenon in Indonesia, but in the fact that the beggars, especially children minors are only in the order enumerated by their parents to earn a living. in addition, that the beggar phenomenon that occurred in Indonesia has become a habit and culture as well made ​​as the work enumerated by some people for that purpose in this paper .

Therefore, in general, many people argue that the beggar is only done by people who condition economic very low, but in fact it is very contradictory. In this paper also contains an explanation of the factors as well as the phenomenon of beggars in the minor. The things we do to make you more easily in a better understanding of the phenomenon of child beggars with language that is easy to understand

We realized that the paper is still far from perfection. Therefore, the varioust criticism and suggestions from our readers we will all accept it gracefully to perfection this paper.

December 2012

Author

Motto :

“Success is to get whatever you want, and happiness is to love whatever you got”

Dedicate to :

This paper we dedicate it to our parents who support in the manufacture of this paper and beloved friends who have given advice, entertainment, and inspiration.

Table of Contents

Preface i

Motto and Present ii

Table of Contens iii

Abstract 1

Chapter I Introduction 2

A. Background 2

B. Theological Problem 2

C. Purpose 3

D. Advantage 3

Chapter II Data and Analysis 4

A. Data and Analysis 4

Chapter III Discussion 9

A. Basic Theory 9

B. Analysis Phenomenon of Child Beggar with Structuration Theory 11

Chapter IV Conclution 15

A. Conclution 15

B. Solution 15

Bibliograpy 17

The Phenomenon of Child Beggars in Surakarta

(Analysis with Structuration Theory)

Abstract

The aim of this research was to find out an agent who is causes the growing child beggar in Surakarta. Subject in this research is childs who begging in Surakarta. This research uses Anthony Giddens structuration theory analysis of capacity as agent and structure.

In this research we use qualitative methods. Data we receive by observation and interview. Observation used a direct observation, observation of the way closed. Closed observation is observation where observers operate and conduct observations without being noticed by its subject, so that researchers got a natural situation.

Based on the research that has been done can be concluded that the role of being an agent for child beggar are his parents. Our research show that the majority of child beggars is commanded by his parents. The goal is increase the family income and household.

Keywords: child beggar, structuration, agent, structure.

Chapter I

INTRODUCTION

  1. A. Background

The research was conducted in the area of ​​Surakarta. Site selection and location of the research is based on the number of child beggars who operate in the region of Surakarta, so it feels quite representative and important to conduct this research.

Then why we are interested in the theme of child beggars in Surakarta is because apparently in the region of Surakarta unknowingly many children who should be in school, but because his parents did not have money for their education, the children go jump straight to work and even to cater to individual needs families and the backbone of the family.

The subject of our study is the beggar child in Surakarta area. Because in a sense beggar children are more rarely encountered than adult beggars and what background of the child to be a beggar may differ from adults in general.

In this research we use qualitative methods. Data we receive by observation and interview. Observation used a direct observation, observation of the way closed. Closed observation is observation where observers operate and conduct observations without being noticed by its subject, so that researchers got a natural situation.

  1. B. Theological Problem

Based on the above background, we formulate a problem, that is:

1. what is the cause them(child) to begging?

  1. C. Purpose

The research was conducted to find out the agent as the cause of the growing of child beggars in Surakarta.

  1. D. Advantage

The advantage of the study, are:

  1. By knowing the agents that cause of the growing of child beggars in Surakarta, the writer can add a repertoire of knowledge.
  2. By knowing the causative agent of child beggar, it can be used as guidelines as a baseline for further research.

Chapter II

DATA AND ANALYSIS

  1. Data and Analysis

Based Note for Social Department (Dinas Sosial) Surakarta, the number of child beggars in 2009 was 405. There are 38 centers based street children and child beggars around Surakarta. Namely, Traffic Light Panggung, Traffic Light Sekarpace, Crossroad Ngemplak, Tirtonadi bus station, Traffic Light Manahan, Timuran, Crossroad Sambeng, near Panti Waluyo, Tugu Cembeng, Pucang Sawit, Jurug, UNS campus, Traffic Light Gendengan, Crossroad Sraten, Kawatan, Traffic light Ngapeman, Pasar Kembang, in front of Post Office, crossroad Tipes, Pasar Pon, Coyudan, Nonongan, Purwosari, Banjarsari, Sriwedari, Ring Road Joglo, Klewer market, Miri, Baturono, Gemblegan and etc

In the research we’ve done, we took a sample of six samples that we took from a few different places in the city of Surakarta, in campus UNS, Traffic light Panggung, In front of Bank Indonesia, Alun-alun Kidul and Bus Station Tirtonadi. In research known that child beggar work on early morning until evening or evening till night. As was said by respondents we as follows:

“…kadang siang seperti ini sampai jam sembilan malam, kadang-kadang hanya sore atau malam hari….” (Asep, 9 tahun)

“…dari siang mbak sampai malam jam 9..” (Anam, 11 tahun)

Our research show that the majority of child beggars is commanded by his parents. The goal is increase the family income and household.

“…..di titipkan bapak sama pakdhe buat ikut ngemis. Ya, nggak papa sih mbak, buat bantu ibu juga kok…..” (ikhsan 9 tahun)

Factor of laziness and poverty that makes it easier for someone to exploit her children. The majority of child beggars not attending school with reason no costs, not allowed by his parents and lazy. There are some who want to go to school but was forbidden by his parents with reason no costs. But in the reality his family not poverty but they are lazy working and get much money with an easy and fast. Their average income per day is 50.000-200.000, started working from morning till evening The result is given to their parents. They only got 5,000 to buy a snack when begging. If accumulated in one month then their income reached 1.500.000 up to 6.000.000. In the real life they don ‘ t as bad as seen when they beg, they have motorcycle. Their food not undernourishment, in this afternoon we see they were eating bread, juice guavas, a snack and before go home they bought foods in the minimart.

From the conversation we already know that the economy is a driving factor for the behavior or professional beggar. But in addition, it is possible that the beggars were originally not a beggar but the beggar as they make their profession. In practice, it sometimes beggars have some sort of boss who became chairman. Before begging beggars are usually directed first by their bosses to operate in the region in the value of many areas of activity, such as stations, traffic lights, bus terminals and other vital places. In addition, the more concern, that not a few parents who make their children as beggars or street singers to crush economic reasons.

“….. orang tua saya bekerja tidak tetap…..oleh karena itu saya di suruh kerja jadi pengemis…… ” (Asep 10 years).

Beggars are very flourishing in Indonesia, but only a few people who really became a beggar, in other words, this profession was deliberately done in order to make a profit (money) in an easy way. In addition, professional beggars in a very lucrative if done in a very tolerant society such as the Javanese, therefore enumerated by this opportunity be used by some to find profit, one way to work as beggars. Another factor that cause mushrooming phenomenon that is the pattern of people who still think the all means to gain profit. The beggar but does not have the background of a family who became a beggar, even those too young was a lot of studying. However, they prefer to beg, because they think that education is very time-consuming and cost, therefore their children are being forced the school to be a beggar with an economic base. In some cases in the end we can analyze the behavior of beggars that can occur due to several factors, among others, namely:

Ä  Individual and Family Poverty

Through research conducted poverty turns people including one of the factors that determine the activities of vagrancy and begging. Therefore, during the dry season begging and his family earn money to the city (Surakarta) for only the most basic needs, the need for food.

Ä  Age

It turns out the age factor significant influence, of the vagrants and beggars encountered was a very young age, which is less than 13 years. Based on interviews with those factors in mind that young age is an opportunity for them to perform activities of vagrancy and begging in the absence of a shame to think that is too strong. Even they (the children) were seen merrily running around and joking with his friend when begging.

Ä  Formal Education

With regard to the above factors of age, it is also educational factors also influence the respondents to conduct vagrancy and begging. At this level was categorized age children, should they have followed the formal education activities in schools. However, they chose to begging than school because it has the financial ability to the needs of the school as a result of the poverty of parents. Not educationally respondents causing them to not gain knowledge or understanding of the manners, religion and other sciences are able to inspire their hearts not to do activities as beggar.

Ä  Parent Permission

All children conducting vagrancy and begging interviewed said that they had received permission from his parents and even told by her parents. Through interviews with beggars, the reason mentioned above are also warranted given the socio-economic condition of the parents of children who became beggar classified as very poor.

Ä  Lack of Skills

The results of interviews with some beggars operating in Surakarta, not have the skills required by the job. This condition is quite natural to happen because most of them are still a young age or younger. Supposedly they are enjoying academic activities or in education. While they are considered relatively older age and female youth were never obtained from vocational education in the city. Therefore, the activities of vagrancy and begging is the easiest option to implement in order to earn money easily. But according to them, begging it sometimes quite difficult to get the money because they have to drive around and try and try to  ask for, which was not all prospective direct alms giving, and even ignore it.

Ä  Attitude

This condition occurs because in the minds of the beggars emerging trend that the work he did was something mediocre, should other work that aims to generate income. The absence of other sources of income and limited mastery of productive infrastructure and facilities, and the limited skills cause they make begging as a job. Or in other words, they say also that there is no other way but to beg to earn money to meet their needs. In addition, the lazy mental attitude is also driven by the lack of control or any other community permissive impression against vagrancy and begging activities conducted by residents because of the economy they are very limited. While on the other hand, has not had the right solution in the short term for those who become beggar. Such situation is also helped raise and maintain a culture of begging little happens.

Chapter III

DISCUSSION

  1. A. Basic Theory

In this research authors use Structuration theory with the concept of agency and structure as a tools analysis. Structuration theory, Giddens said social life is more than just acts individual. However, social life was also not solely determined by forces social. According to Giddens, human agency and social structures related to each other. The actions over and over ( repetition ) of agents individual that reproduces that structure. The act of daily someone strengthen and reproducing set of expectations. Device expectations those who form what by sociologist called as the social force and social structures, this means, there are a social structure as tradition, institutions, rules moral  and established ways to do something. However, this also means that all the structure could be altered, when people started to overlook, displace, or reproducing differently.

In the theory of Structuration, there is the nature of duality on the structure. That is, the structure as a medium, and at the same time as the results (outcomes) of the agent’s actions repeatedly organized (recursively). The structural properties of a social system is not actually being out of action, but is involved in the production and reproduction of such actions. Structure and agency (by his actions) can’t be understood separately. On a basic level, for example, people create communities, but at the same time people also tightly confined and restricted (constrained) by the community. The structure was created, maintained, and changed through the actions of the agent. Whereas the actions themselves are a form of meaning (meaningful form) only through the framework structure. The causality goes on two directions of reciprocity, so that it is not possible for us to determine what to change. So, structure has the limit (constraining) at the same time open the possibility (enabling) for the actions of the agent.

Giddens defines structure as rules and resources involved repeatedly in the reproduction of social systems. Structures exist only in memory traces, the organic basis for the ability of human knowing, and as realized in action. The structure includes rules – rules and resources in the community. The structure can be a medium as well as a result – the result of the practice – the social practices that make up the social system. While the social system is defined as a relation which is reproduced by individuals or groups that form the basis of social practices.

In the theory of Structuration, the agent or actor has three levels of awareness. First, Discursive Consciousness (discursive consciousness). That is, what is said or given to verbal expressions by actors, about social conditions, in particular about the conditions of his own. Consciousness is a discursive consciousness (awareness) that has a form of discursive. Second, Practical Awareness (practical consciousness). That is, what an actor should know (believe) about social conditions, in particular the conditions of his own. However it can’t be expressed in the discursive actor. The difference with the case of unconsciousness, there is no veil of repression that covers practical awareness. And third is The motives or unconscious cognition (unconscious motives/cognition). More motifs refer to the potential for action, rather than the way (mode) the action was done by the dealer. The motive only has to do with action in an unusual situation, which deviate from the routine. Most of the actions the agent on a daily basis is not directly based on any particular motivation.

Giddens defines structure as rules and resources involved repeatedly in the reproduction of social systems. Structures exist only in memory traces, the organic basis for the ability of human knowing, and as realized in action. The structure includes rules – rules and resources in the community. The structure can be a medium as well as a result – the result of the practice – the social practices that make up the social system. While the social system is defined as a relation which is reproduced by individuals or groups that form the basis of social practices.

  1. B. Analysis the Phenomenon of Child Beggar in Surakarta with Structuration Theory.

Ä  Agent, Structure, Rules and Resources.

From the description of the concept structuration described above, then we can associate with the phenomenon of under-age beggars in Surakarta. We have already seen that the actual structure is embedded in children under the age that their primary duty is education or at least go to school. But by the parents, the view to this view then shifts from values or norms. The view that children must attend school in the eyes of the parents may be a thing that is no longer a necessity, but that young children can do other things in perspective more beneficial for one family to help their parents with a beggar. The notion that the profession is a profession that lowly beggar or less worthy, now a profession must for some people because of economic reasons. Therefore, the profession is now a land of beggars to reap profits for some, and the profession is no longer a job for the lower classes, but each person can live.

As we know childhood is a period in which young people begin to recognize the values and norms that exist within the scope of the family or outside the family for lunch in life more complex. In addition, children that age is a period in which the individual grows flowers begin to understand the status and role of the state-run one. It is certainly very contradiction with the beggars under age. At that age they require to carry out the role on desired by their parents, in other words they are trying to replace their role to the role of their parents. The children are forced to beg, while their parents supervise their children from a distance. Child childhood is a period in which an individual needs to play a lot and learn, because at that age the age of memory and brain absorption is still very good to do two things in comparison to the age of adolescence.

Based on the results we got from the interview that the beggars under the age of majority is under 13 years old. Period of time to play and learn that they crave now replaced into a profession that demands sacrifices for those who live it. The children are no longer think that I had school, but their minds were oriented on meeting the economic needs of the family. In general, only the begging profession done by the parents or the people where they can’t meet the needs of its economy well, but the fact remains that the current lot of young minors who are forced into begging by their parents. Behavior beggar children do minors could not be separated from the internal and external factors such as an individual, poverty, family, age, formal education, parent permission, lack of skills, attitudes and mental individual itself. By identifying the social structure of the minor beggars, we can analyze how the agent’s role in influencing young children before they go to school and then they become a beggar. In theory Structuration, Giddens said that someone everyday actions reinforce and reproduce a set of expectations (hopes). Devices expectations that other people make up what is referred to by sociologists as “social force” and “social structure.” This means, there are social structures, traditions, institutions, moral rules, and established ways of doing things. However, this also means that all of the structure could be changed, as people began to ignore, replace, or reproduce differently. Examples, on the basis of the level of creating a community, but at the same time people are also constrained and limited (constrained) by the public. The structure is created, maintained, and transformed through the actions agents. While the acts themselves are given meaningful shapes (meaningful form) only through the framework of the structure.

In the case of child beggars in Surakarta show that these children become beggars because families are demanding environmental conditions to perform the profession as a beggar. It is then driven by the nature of these innocent children, so they are easily invite to be a beggar than go to school. This suggests that the structure of relationships in adolescence showed duality structure in inhibiting and permitting. Structure inhibits the negative opinions outside his family and encourages him to understand that begging will increase the economic income for their families and increase social solidarity. While enabling shown in negative and positive impacts of begging, that begging is better than just go to school because they impart help parents provide for their family’s economy. So it can be known to the individual (agent) can make changes to the social structure. As individual agents who are in the scope of the family, the agent understands what he did and why he did it. Agents have the ability to change the structure of the individual or group with the rules and resources that he is either in the form of allocation or autoricative. According to Giddens allocative resources allow domination of man over the material world, such as raw materials, technology, etc. Then, autoricative resources that enable humans to dominate the social world, such as the organization of space – time, organization and human relations in reciprocal associations, etc.

On the phenomenon of child beggars, there are agencies that play a role in influencing the young child. Agents try to influence the structure of children self that originally they like school to become a beggar. In an interview we did, it was found that the agents as a driving factor child children into beggars are friends of their friends and members of his own family. In this case the figure of his fellow principal agent (parents) that causes the original school children as beggars by the rules and resources. Allocative resources in the form of solicitation of his parents to become a beggar is like parents who invite children to play. While autoricative indicated resource in the form of the ability to ensure begging as a means of improving the income of economic and the family, and the profession of a beggar makes it even does not feel burdened with work. In addition to the influence of the family environment, the individual is considered as an agent that also has a significant influence in making profession as beggars. The children who are innocent are thinking that at such an early age that they should be able to help their parents, so with a little invitation from their parents then want to follow the orders of their parents in order to become a beggar.

Agent on the phenomenon of growing child beggar is his parents. Our research shows that the majority of child beggars is commanded by his parents. In the theory of Structuration of the individual or the perpetrator of the actions referred to as agent. Agent not only monitor continuously their structure and hope others follow their activities, but also to monitor aspects both physical and social events there is at their place of work. In the structure of beggar children, parents are instrumental. They arrange their children in order to get the expected results. Parents applying some rule to his son not to go to school, come to the workplace at any given time, came home on certain hours and submit the results beg them.

In the structure of beggars, in addition there are rules, there is the concept of resources leads to a way how to create a structure. In order to get the results much, beggars use the way a certain way to get compassion from the people who see it, that is by the way internalize of poor people symbols into themselves when they were begging. They use clothes that are looks dirty, her body dirty looks as though not groomed, pitiful facial expression, not wearing shoes or sandals when begging and etc. Symbol’s of the poor they use aims to make people see it so pity and give money to him. So, the agents have been using rules and resources that exist within the structure to make others follow the structure that they create.

Chapter IV

CONCLUTION

A. Conclution

From the interviews of six respondents, we can conclude that on average they begging is commanded by his parents. The goal is increase the family income and household. The exploitation of children to begging is the impact of social problems faced by children and also his family. Factor of laziness and poverty that makes it easier for someone to exploit children. The majority of child beggars not attending school with reason no costs, not allowed by his parents and lazy. There are some who want to go to school but was forbidden by his parents with reason no costs. But in the reality his family not poverty but they are lazy working and get much money with an easy and fast.

In order to get the results much, beggars use the way a certain way to get compassion from the people who see it, that is by the way internalize of poor people symbols into themselves when they were begging. So, make people see it so pity and give money to him.

B. Solution

The phenomenon of child beggars we encountered is one proof of that at this time the public is no longer values that once they see as something that should be adhered to and implemented. With the development of a society, it also will be growing too the social structure of the community. Like as which we have described above that a individual can alter or establish a new structure the condition that he has rules and resources, but on the other hand individuals should follow the structure that he created and agreed upon. In addition, the structure can also be changed when people started to ignore, replace, and produce differently. This is what we find in the phenomenon of underage beggars in Surakarta. Understanding that children should be in school now and changed aside with the idea that these children would not have to go to school but they have to help their parents earn a living for his family. So we can conclude that the structures developed in the community at this time is a form of production that is different from that in the previously agreed structure because the structure once considered no longer appropriate when applied to the present.

Bibliography

Books

Bungin, Burhan. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo      Persada

Giddens, Anthony. 2010. Teori Strukturasi: Dasar-dasar pembentukan Struktur     Sosial Masyarakat (penerjemah Maufar dan Dariyatno). Yogyakarta:             Pustaka Pelajar

Giddens. 1979. Central Problems in Social Theory: Action, Structure and Contradiction in Social Analysis. London: MacMillan Press

Priyono, B. Herry. 2003. Anthony Giddens Suatu Pengantar. Jakarta:          Kepustakaan   Populer Gramedia

Ridwan. 2009. Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian (untuk    Mahasiswa S1, S2, dan S3). Bandung. Alfabeta

INTERNET

http://argyo.staff.uns.ac.id/files/2010/08/analisis-situasi-pendidikan-pekerjaan-anak-di-kota-surakarta.pdf

SOSIOLOGI HUKUM

KEGIATAN PROSTITUSI REMAJA DI INDONESIA DITINJAU DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM

Perkembangan zaman, tekhnologi dan terjadinya krisis ekonomi turut serta mempengaruhi pola pikir masyarakat akan segala hal. Pengaruh perkembangan tersebut dapat bersifat positif dan negative. Misalnya saja muncul berbagai masalah yang bertentangan dengan norma sosial seperti tawuran antar pelajar, korupsi, prostitusi dan masih banyak lagi. Pokok bahasan dari makalah ini adalah mengenai prostitusi di Indonesia yang melibatkan remaja dan anak-anak.

Prostitusi diartikan sebagai pelacur atau penjual jasa seksual atau disebut juga dengan pekerja seks komersial. Menurut istilah, prostitusi di artikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri atau menjual jasa kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah sesuai dengan apa yang diperjanjikan sebelumnya. Prostitusi atau pelacuran merupakan penyakit masyarakat  yang semakin marak sekarang ini dan mempunyai sejarah panjang dan hingga kini masih terus berjalan. Saat ini prostitusi semakin meluas, tidak hanya di kota-kota besar saja melainkan telah menyebar ke desa-desa yang terpencil sekalipun. Praktek prostitusi tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dewasa tetapi juga mulai menyentuh kalangan remaja bahkan yang dibawah umur. Padahal norma-norma sosial jelas mengharamkan keberadaan prostitusi, bahkan sudah ada UU mengenai praktek prostitusi yang ditinjau dari segi Yuridis yang terdapat dalam KUHP yaitu mereka yang menyediakan sarana tempat persetubuhan (pasal 296 KUHP), mereka yang mencarikan pelanggan bagi pelacur (pasal 506 KUHP), dan mereka yang menjual perempuan dan laki-laki di bawah umur untuk dijadikan pelacur (pasal 297 KUHP). Dunia kesehatan juga menunjukkan dan memperingatkan bahaya penyakit kelamin yang mengerikan seperti HIV / AIDS akibat adanya pelacuran di tengah masyarakat.

Perkembangan internet yang seharusnya dijadikan sebagai media untuk mencari wawasan tentang pelajaran atau informasi penting yang lainnya. Akan tetapi dilain pihak kemajuan tersebut dimanfaat sebagai media promosi bagi para pelacur, biasanya mereka memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog dan lain sebagainya sebagai media untuk memperluas praktek prostitusi yang mereka jalani. Denagan kemajuan tekhnologi informasi justru membuat praktek prostitusi semakin mudah dan tersusun secara rapi membentuk sebuah organisasi yang terorganisir dengan baik.

Secara sosiologi, prostitusi merupakan perbuatan amoral yang terdapat dalam masyarakat. Hanya demi untuk mendapat sesuap nasi dan kesenangan sesaat para pelacur telah mengorbankan kehormatan, harga diri, derajat dan martabatnya didepan laki – laki hidung belang. Pekerja prostitusi tidak hanya wanita dewasa, tetapi juga anak-anak dibawah usia 18 tahun. Berbagai istilah muncul untuk menyebut mereka seperti ciblek (cilik-cilik betah melek atau cilik-cilik isa digemblek) dan sebagainya. Menurut hasil riset ada 214 ribu orang pelacur di berbagai daerah di Indonesia. Jumlah itu dikunjungi oleh lebih dari 3 juta laki-laki. Dari 214 ribu, sekitar 150 ribu adalah pelacur di bawah usia 18 tahun. Sedangkan 50 ribu diantaranya belum mencapai usia 16 tahun.

Faktor penyebab pelacuran anak sangat kompleks tetapi dapat digolongkan menjadi empat yaitu terjerat sindikat germo, karena tidak perawan lagi, ingin mendapatkan uang yang lebih besar dan kecanduan pil. Untuk faktor pendorong meliputi, kondisi ekonomi khususnya pedesaan yang terjadi penggerusan di sektor pertanian, urbanisasi dan tumbuhnya industri di perkotaan, disintegrasi keluarga, pertumbuhan jumlah anak gelandangan, tidak ada kesempatan pendidikan dan meninggalnya pencari nafkah keluarga sehingga anak terpaksa masuk keperdagangan seks. Sedangkan faktor penarik, meliputi jaringan kriminal yang mengorganisasi industri seks dan merekrut anak-anak, pihak berwena ng yang korup sehingga terlibat perdagangan seks anak, permintaan dari wisatawan seks dan fedofil, ketakutan terhadap AIDS sehingga membuat pelanggan menginginkan pelacur yang lebih muda dan permintaan pekerja migran.

Dilihat dari segi sosiologinya, mereka dipandang rendah oleh masyarakat sekitar, di cemooh, dihina, di usir dari tempat tinggalnya, dan lain–lain sebagainya. Mereka seakan–akan sebagai makhluk yang tidak bermoral dan meresahkan warga sekitar serta mencemarkan nama baik daerah tempat berasal mereka. Permasalahan Prostitusi tidak ubahnya sama dengan manusia pada umumnya, secara garis besar prostitusi tentunya juga mempunyai suatu makna hidup. Sama halnya dengan manusia atau individu lainnya. Proses penemuan makna hidup bukanlah merupakan suatu perjalanan yang mudah bagi seorang PSK, perjalanan untuk dapat menemukan apa yang dapat mereka berikan dalam hidup mereka, apa saja yang dapat diambil dari perjalanan mereka selama ini, serta sikap yang bagaimana yang diberikan terhadap ketentuan atau nasib yang bisa mereka rubah, yang kesemuanya itu tidak bisa lepas dari hal-hal apa saja yang diinginkan selama menjalani kehidupan, serta kendala apa saja yang dihadapi oleh mereka dalam mencapai makna hidup.

Berbagai solusi untuk meminimalisir kegiatan prostitusi yang melibatkan remaja dan anak-anak telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak di Indonesia. Mulai dari pemerintah melalui satpol PP yang melakukan penertiban kepada kegiatan prostitusi secara langsung. Selain itu juga membuat peraturan perundang-undangan yang intinya melarang kegiatan prostitusi serta diadakannaya rehabilitasi bagi wanita tuna susila. Namun pada prakteknya tidak berjalan dengan baik, misalnya terjadi pungli oleh satpol PP kepada rumah-rumah bordil sehingga mereka lolos dari razia, adanya oknum-oknum penegak hukum yang membekingi tempat-tempat prostitusi dan tidak maksimalnya fungsi panti rehabilitasi bagi wanita tuna susila. Sementara dari lingkungan sekitar juga terdapat upaya-upaya untuk mengatasi masalah prostitusi berupa pemberian sanksi sosial(dicemooh,dikucilkan) bagi para pelaku prostitusi tetapi hal itu juga tidak banyak member pengaruh.

Maka tak heran jika masyarakat menerapkan hukum mereka sendiri, karena menilai pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut. Dibeberapa daerah, masyarakatnya menghukum sendiri para pelaku prostitusi dengan sanksi yang cukup berat. Misalnya, di Lampung ada hukuman yang dinamakan bubu ayun, apabila laki-laki hidung belang dan PSK tertangkap sedang melakukan hubungan seks maka mereka akan dimasukkan kedalam bubu ikan yang penuh dengan duri kemudian diayun di sungai.

Penting bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk turut bertanggung jawab atas masalah ini dengan menciptakan kondisi politik ekonomi yang stabil sehingga terciptanya suatu keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Karena hampir 90% penyebab pelacuran adalah masalah ekonomi. Sedangkan penanganan bagi mereka yang sudah terlanjur terjerumus dalam prostitusi perlu mendapat rehabilitasi, pembinaan dan pelatian dipanti sosial yang telah disediakan pemerintah secara benar dan konsequen sesuai fungsinya. Di dalam panti sosial para wanita tuna susila harus dibekali dengan pembinaan dan ketrampilan untuk menyiapkan mereka kembali ketengah masyarakat. Penanaman nilai moral dan agama juga penting bagi para remaja agar mereka memiliki benteng dalam dirinya untuk tidak terjerumus dalam dunia prostitusi. Selain itu masyarakat juga harus menerima dengan tangan terbuka para pelacur yang telah meninggalkan pekerjaanya sebagai PSK dan ingin kembali kedalam masyarakat yang sebagaimana mestinya.

Daftar Pustaka

Irianto, Sulistyowati (ed). 2006. Perempuan dan Hukum: Menuju Berprespektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Soekanto, Soerjono. 1989. Mengenal Sosiologi Hukum. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Soemanto, R.B. 2006. Hukum dan Sosiologi Hukum: Lintasan Pemikiran, Teori dan Masalah. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

SERIKAT BURUH DAN ORGANISASI PROFESIONAL

Posted Friday, March 29th, 2013

SERIKAT BURUH DAN ORGANISASI PROFESIONAL

Di dalam sebuah industri tentu tak pernah lepas dari yang namanya adalah organisasi kelompok. Dalam sebuah industri terdapat berbagai kelompok yang dinamakan sebagai kelompok kepentingan atau bis kita sebut sebagai “Study of Industrial Relation“, dimana kelompok tersebut menaruh perhatianya terhadap aspek industri dan sangat berpengaruh terhadap industri. Banyak persamaan antara kelompok kepentingan tersebut dengan para ahli sosiologi dalam memandang berbagai aspek di dalam industri, namun mereka semua memiliki perbedaan dalam melakukan hal pendekatan terhadap aspek-aspek industri. Tentunya di dalam industri penuh dengan konflik pandangan antar kelompok kepentingan, namun dalam hal ini para ahli tidak terlibat langsung di dalam masalah-masalah yang dihadapi namun lebih cenderung menymbangkan pendapatnya ke dalam sebuah tulisan ilmiah maupun diskusi-diskusi para ahli sendiri maupun dengan pihak perusahaan ataupun pihak buruh. Dalam membahas kelompok kepentingan, terlebih dahulu kelompok kepentingan adalah kelompok sekunder yang berasosiasi dengan organisasi perusahaan dan struktur kekuasaan. Dalam sebuah industri terdapat kelompok, yakni kelompok organisasi serikat buruh atau Trade Union dan organisasi-organisasi profesional di pihak buruh serta organisasi pengusaha di pihak majikan. Dalam hal ini kelompok majikan atau kita sebut “boses union” merupakan kelompok yang memiliki posisi yang ckup kuat dalam menghadapi serikat buruh, dikarenakan pihak serikat buruh hanya terdiri dari pekerja-pekerja non manual serta tidak memiliki hubungan dengan pihak pengusaha. Dalam sebuah kelompok tentunya memiliki suatu problem-problem atau masalah yang dihadapi, seperti di dalam kelompok Trade Union atau kelompok kaum pekerja, disini problem yang dihadapi ialah perjuangan untuk menghadapi sikap dan perlakuan pihak majikan yang dirasakan kurang adil. Selain itu juga problem lain adalah dimana usaha mereka untuk memiliki pengaruh politik terhadap kebijaksanaan ekonomi pada tingkat nasional dan kesulitan-kesulitan memperoleh dana. Fungsi serikat buruh adalah untuk mengadakan perundingan dengan pihak majikan mengenai tingkat upah dan kondisi kerja perusahaan. Selain adanya Trade Union, tentunya juga terdapat Profesional association dimana organisasi ini merupakan organisasi yang para anggotanya memiliki profesi tertentu, misal Ikatan dokter, Persatuan insinyur, dll. Dalam hal ini fungsi dari Organisasi profesional meliputi:

Memberi hak pada anggota-anggotanya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.

Bertindak sebagai suatu kelompok yang melakukan studi tentang suatu masalah.

Menetapkan aturan-aturan atau kode etik yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya.

Melindungi hak-hak dan kepentingan anggotanya serta meningkatkan status mereka.

Di dalam organisasi profesional ini tentunya juga tidak lepas dari sebuah problem, problem yang dihadapi antara lain meliputi pemeliharaan pembentukan suatu hubungan harmonis antara profesi dengan masyarakat, kontrol sosial terhadap anggotanya, penyesuaian diri terhadap perubahan dalam hubungan tradisional antara anggotanya dengan masing-masing kliennya dan usaha penyelesaian mengenai konflik yang terjadi di dalam tubuh organisasi. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa antara fungsi dari Trade Union dengan fungsi organisasi profesional sangatlah berbeda dan disitu pula juga terlihat bahwa sama sekali tidak terlihat bahwa ada usaha-usaha untuk saling pengaruh mempengaruhi antara kedua kelompok tersebut.

Masalah utama yang mendapat perhatian bahwa trade unions sebagai instrumen yang menyebabkan perubahan sosial:

Ä  Klasifikasi dari tipe trade unions

Ä  Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi anggta dalam trade unions

Ä  Berbagai masalah dalam pelaksanaan demokrasi di dalamnya

Banks (1974, hal 53) mengemukakan teori “determininst dan teori “voluntarist yang membahas trade union sebagai perangkat perubahan sosial.

Konsep “determinist” menyatakan bahwa aktivitas atau kegiatan trade union tidak lebih dari pada suatu respons atau tanggapan terhadap masalah mendasar  dalam bidang ekonomi , politik, dan sosial yang terjadi di luar tubuh organisasi trade unions.

Konsep “Voluntarist” mengatakan bahwa sikap militan trade unions adalah faktor penyebab meningkatnya kesejahteraan eknomi kaum buruh.

Masalah klasifikasi trade unions yang mana diklasifikasi secara tradisional berdasarkan kombinasi dari tipe skill, yaitu:

Craft unions, terdiri dari sekelompok pekerja yang memiliki jenis pekerjaan sama. Contohnya: sopir bergabung dengan para sopir namanya serikat sopir.

Industri unions, semua pekerja baik ahli maupun yang tidak ahli di dalam sebuah industri. Tapi lebih di dominasi pekerja skill karena pada umumnya mereka lebih terorganisasi. Contohnya: jababeka

General unions, rganisasi ini memiliki banyak anggota pada beberapa buah perusahaan industri dan sering merupakan bentuk gabungan dari beberapa union yang kecil-kecil.

Karena klasifikasi diatas kurang jelas , clegg dan rekan-rekannya pada tahun 1961 membuat suatu klasifikasi baru:

General unions, sama dengan general unions pada klasifikasi tradisional.

Single-industri unions, hampir sama dengan industr unions.

Skilled unions, anggotanya orang yang memilki keterampilan  tertentu. Mirip  dengan craft unions dimana anggota memiliki suatu keterampilan tertentu, tetapi pada craft union pada klasifikasi tradisonal para pengawas yang masih magangpun di masukkan ke dalamnya.

Craft unions, agak berbeda dengan yang tradisional tadi karena selain pekerja-pekerja skill juga pekerja-pejkerja semi skill pun di masukkan ke dalamnya.

White-collar unions, meliputi tenaga kerja klerk, supervisor, tenaga administrasi dan tenaga teknis.

Kemudian masalah demokrasi di dalam organisasi trade unions. Masalah ini berkaitan dengan sikap acuh tak acuh para anggota terhadap kegiatan trade unions. Tingkat apatis mreka tergantung pada jenis serikat, sikapapatis trersebut mungkin sebagai di sebabkan oleh karena adanya sikap ambivalen tujuan trade unions. Karena sifat demokrasinya maka tujuan setiap serikat di tentukan oleh anggotanya yang bisa berubah-ubah setiap saat dan berbeda stu sama lain. (hyman dan fryer, 1975, hal 1958)

Ada dua batasan tentang demokrasi yang telah di gunakan untuk menganalisa politik union yaitu: “tanggung awab pimpinan terhadap bawahannya” da “pelembagaan posisi” (Lipset et al, 1956; Edelstein and werner, 1975).

Martin (1968) telah menolak kedua definisi diatas dan mendefinisikan demokrasi sebagai perjuangan kelompok. Edelstein dan Warner (1970) telah membandingkan pola oposisi antara oganisasi-organisasi serikat buruh di inggris dan amerika serikat dengan melalui survai terhadap sikap oposisi yang ada pada jabatan-jabatan tinggi serikat.  Mereka menyimpulkan bahwa organisasi serikat buruh inggris memiliki tingkat demikrasi yang lebih tinggi dalam hal keterbukaan untuk memberi informasi mengenai hasil-hasil pemilihan pengurus unions. Tetapi di lain pihak american unions secara organisasi lebih terbuka, lebih terorganisir tetapi lebih sering menderita kekalahan dalam pertarungan melawan pihak majikan. Mengenai yang terakhir ini British Unions lebih baik, sebab mereka di tunjang oleh beberapa faktor, yaitu keterbukaan para pimpinan top, dan metodee pemilhan komite eksekituif yang lebih baik.

Kaum buruh di Indonesia memang kini memiliki kebebasan berserikat dengan kondisi yang jauh lebih baik, tetapi konflik relasi industrial-perburuhan juga didapati meningkat. Di indonesia sendiri upah buruh hanya sepertiga dari buruh thailand. Masalah upah dan kesejahteraan buruh tidak lain menjadi pemicu utama konflik. Berdasarkan data PHI dan Jamsos, jumlah kasus perselisihan antara buruh dan industrial bertambah dari tahun 2010 dengan 3.993 kasus ke 4.242 kasus di tahun 2011. Kemudian, Sistem alih daya (outsourcing) dan kerja kontrak sangat merugikan buruh dan pekerja karena menyuburkan praktik pemberian upah rendah. Padahal, jelas ada batasan seperti yang diatur Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan peraturan pelaksanaannya. Jadi, wajar jika kalangan buruh/pekerja mengancam akan melakukan mogok nasional untuk menolak sistem outsourcing dan kontrak kerja. Sebab, faktanya hanya merugikan pihak buruh dan pekerja.

Di luar negeri serikat buruh di berikan hak-hak yang sesuai tentang fungsinya mengadakan perundingan dengan pihak majikan mengenai tingkat upah dan kondisi kerja pada perusahaan. Tapi di indonesia sendiri semua hal-hal itu tak ada suaranya. Buruh atau pekerja tetap saja di rugikan.

INDUSTRIAL RELATIONS

Pendekatan Terhadap Subyek

Istilah industrial relations sendiri memiliki arti ganda, yang pertama industrial relations mengacu pada hubungan diantara manager dengan pekerja bawahan baik dalam ruang lingkup perusahaan maupun dalam lingkungan masyarakat luas. Kedua, industrial relations mengacu pada suatu hubungan kolektif serikat buruh dengan pihak pengusaha. Di smaping itu, pendapat lain diungkapkan oleh Flanders. Flanders mengatakan, industri relation system adalah suatu norma yang bisa muncul dalam berbagai bnetuk misalnya aturan aturan dalam trade union (organisasi serikat buruh), persetujuan atas perjanjian bersama, konvensi masyarakat, keputusan manager dan berbagai tindakan kebiasaan ayng dianggap sudah umum. Akan tetapi, teori flanders di bantah oleh margarish. Margarish menerangkan bahwa teori yang diajukan oleh flanders cenderung lebih menekankan terhadap berbagai akibat yang ditimbulkan oleh konflik dalam industri daripada mencari sebab sebab yang ditimbulkan oleh konflik tersebut. Dengan demikian untuk menganalisis sebab sebab munculnya konflik di dalam sistem sosial industri diperlukan suatu model perilaku untuk menganalisanya. Variabel variabel utama dalam model tersebut antara lain yaitu pertama, obyektives yang meliputi organisasi perusahaan, manajemen, pekerja dan imbal material ( upah, tanda penghargaan, bonus dsb). Kedua, situation meliputi sistem sosial, organisasi, teknologi, berbagai tugas dan materi pekerjaan. Ketiga, interaction meliputi berbagai bentuk interaksi antara pekerjaan, organisasi dan struktur strukturnya serta hubungan antara peran dan kekuasaan. Dan yang terakhir yaitu konflik. Di lain sisi, blain dan gennard juga mengataan ada 3 teori tentan industrial relations. Teori tersebut antara lain yaitu system model ( menerangkan bahwa industrial relations dapat dianggap sebagai sub sistem masyarakat industri analog dengan sub sistem ekonomi. Kedua, oxford approach ( mengaggap bahwa industrial relations merupakan studi tentang pelembangaan suatu aturan pekerja, yang dianggap sebagai suatu cara yang kurang tepat). Ketiga, industrial sosiologi approach, (menolak pendapat pendapat yang terkandung dalam teori sebelumnya, dan cenderung menjelaskan industrial relations dalam bentuk konflik yang terjadi di dalam industri). Secara pribadi, blain dan genner lebih suka terhadap teori system model, mereka juga mengatakan bahwa sistem industrial relations harus dipandang sebagai suatu sistem aturan untuk membuat suatu”action” dan tidak hanya sebagai suatu sitem aturan.

Penentuan produktivitas

Sangat penting bagi pihak manajemen dan trade union untuk melakukan perundingan dalam menentuan tingkat produktivitas, yang lebih tepatnya perundingan dalam hal penetuan tingkat upah. Suatu perjanjian mengenai tingkat produktivitas yang pertama kali di buat, menurut Esso Fawley merupakan suatu perjanjian klasik yang bertujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali jam lembur, peranan pekerja, dan fleksibilitas diantara tenaga tenaga operatif dan tenaga mekanik serta diantara craftmen sendiri. Akan tetapi pada tahun tahun belakangan ini, popularitas perjanjian produktivitas ini cenderung menurun. Hal tersebut terjadi karena adanya efisiensi dan kemajuan perusahaan telah mendorong mereka untuk melakukan perundingan mengenai perubahan  cara cara kerja ketimbang kenaikan produktivitas. Selain itu, popularitas perjanjian menurun disebabkan adanya kekhawatiran di kalangan trade union (organisasi serikat buruh) terhadap menurunya lapangan pekerjaan sebagai akibat dari perjanjian produktivitas tersebut.

Relevansi

Industrial relation yang baik serta adanya penentuan produktivitas yang menguntungkan ke dua belah pihak ( pengusaha dan serikat buruh) sangat dharapkan demi tercapainya industri yang maju, akan tetapi kadang kala ketika salah satu pihak memiliki pendapat lain, maka mustahil lah tercipta kondisi yang mutualis tersebut. Begitu juga di Indonesia, selama ini kalangan buruh menilai bahwa penentuan produktivitas yang selama ini disepakati oleh pengusaha dan buruh ternyata hanya menguntungkan para pengusaha saja, di sisi lain perjanjian produktivitas tersebut malah menimbulkan semacam konflik antara pengusaha dengan burunya, misalnya dalam hal pemberian upah yang rendah dan peberlakuan PHK. Memang, para tersebut sudah terikat kontrak yang harus disepakati, akan tetapi tidak semua keputusan keputusan terbut dapat di toleransi karena di nilai sangat merugikan para buruh.

Konflik Industri

Hubungan kerja industri memiliki kompleksitas sumber dinamika seperti isu upah, kesejahteraan pekerja, dan identitas para pekerja. Sumber-sumber dinamika hubungan kerja tersebut mampu mendorong efektivitas proses industri sekaligus menciptakan konflik kekerasan yang mereduksi kualitas kerja industri. Itu bisa menyebabkan efek-efek tak produktif seperti berhentinya aktivitas perusahaan, kerugian ekonomis, dan merenggangnya kohesivitas sosial antar-pekerja. Konflik adalah gangguan yang luar biasa terhadap sistem norma yang sudah “teratur” dan mapan, juga merupakan wabah penyakit yang mengancam kehidupan ekonomi masyarakat kita. Menurut Scott konflik industri dapat dibedakan menjadi 2 yaitu basic conflict dan procedural conflict.

Basic conflict adalah konflik yang terjadi apabila salah satu pihak(buruh/pekerja) dalam kelompok merasa bahwa imbalan yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Konflik jenis ini biasanya terjadi pada perusahaan dengan sistem pengupahan secara periodik (ex:perbulan) yang telah berjalan lama. Contoh kasus di Indonesia adalah demo pegawai PDAM jaya pada September lalu, hal ini dikarenakan gaji pokok tidak penah mengalami kenaikan sejak tahun 2003. hingga saat ini gaji pokok yang diterima para pekerja hanya sebesar Rp1,45 juta hingga Rp1,7 juta dari jumlah gaji pokok seharusnya sekitar Rp3 juta per bulan. Jumlah ini masih dibawah upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2012 yang mencapai Rp1.529.150 per bulan.

Sedangkan procedural conflict adalah konflik yang didasari oleh perbedaan pendapat mengenai persyaratan upah dan kondisi kerja.  Contohnya adalah demo sekitar 1.400 pekerja outsourcing PT Unilever pada 3 oktober 2012 lalu. Demo ini dikarenakan buruh outsourcing merasa mendapatkan perlakuan diskriminatif dari pihak perusahaan. Pekerja outsourcing hanya memperoleh uang makan sebesar Rp9.000 per orang, sementara pekerja tetap mendapatkan uang makan Rp16.000. Perusahaan memberikan tunjangan cuti, tunjangan perumahan Rp 6,4 juta/tahun dan distribusi produk-produk PT Unilever per bulan kepada pekerja atau karyawan berstatus tetap. Di sisi lain, pekerja outsourcing hanya memperoleh paket distribusi setahun sekali, tidak ada tunjangan cuti, apalagi tunjangan perumahan. Ruang makan pun dipisahkan. Pekerja outsourcing makan di tempat yang terpisah dari pekerja berstatus tetap, bahkan seragam kerja juga dibedakan.

Berbeda dengan Scott, Margersion menbagi konflik menjadi 3 yaitu Distributive Conflict, Structural Conflict dan Human Relation Conflict. Distributive konflik adalah konflik yang timbul akibat adanya peretentangan dalam perundingan mengenai perjanjian upah dan kondisi pekerjaan, dimana salah satu pihak ingin melakukan peninjauan kembali terhadap isi perjanjian tersebut dikarenakan adanya perubahan pasar. Tipe konflik ini menitikberatkan pada permasalahan diantara kelompok yang ada dalam perusahaan.

Konflik struktural muncul akibat kegagalan didalam membentuk struktur organisasi pada waktu sebelumnya, atau gagal mengadaptasikan struktur dengan perubahan yang terjadi, konflik  structural akan menyebabkan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan peran dan otoritas yang harus dipegang oleh unsur-unsur dalam struktur organisasi. Konflik tipe ini menggambarkan tentang permasalahan yang disebabkan oleh maksud dari management untuk melakukan restrukturisasi.

Human Relations Conflict yaitu konflik antar pribadi dalam perusahaan yang berawal dari masalah-masalah pribadi yang dilibatkan kedalam aktivitas perusahaan, sehingga dapat menimbulkan dampak negative. Berkaitan dengan sikap pimpinan dalam pengambilan suatu kebijakan atau keputusan yang dipengaruhi oleh perasaan pribadi, sehingga kebijakan yang diambil seringkali bersifat subjektif dan merugikan perusahaan.

Apabila kelas buruh mengalami konflik maka seringkali yang terjadi adalah demo dengan pemigokan kerja. Banyak factor yang mempengaruhi timbulnya kecenderungan untuk melaksanakan pemogokan. Pemogokan biasanya terjadi pada kelas buruh yang memiliki rata-rata jabatan sama, hal ini dikerenakan kepentingan yang sama diantara mereka. Selain itu juga terjadi pada buruh yang memiliki ikatan yang kuat dalam kelompok tersebut sehingga memiliki rasa kebersamaan dan kepentingan akan perjuangan nasib mereka. Kasus pemogokan buruh sangat sering terjadi di perindustrian Indonesia. Para buruh menganggap bahwa jalan terakhir untuk mengaspirasikan suara mereka agar didengar adalah dengan cara “mogok kerja”. Gelombang pasang perjuangan pemogokan sejuta buruh pada 3 Oktober 2012 kemarin sudah dibuktikan dengan gagah berani mematikan seluruh mesin-mesin produksi dan mogok berproduksi di berbagai kawasan industri yang tersebar republik ini. Seluruh kaum buruh dengan berbaris rapi beriringan dan dengan lantang menuntut penghapusan sistem kerja outsourcing, kontrak dan menolak diberlakukannya upah murah. Sembari menegaskan posisi politiknya terhadap rezim SBY-Boed, yang selalu menjadi pelayan setia kaum pemodal sehingga telah gagal membangun kesehjateraan dan keadilan social bagi kaum buruh dan seluruh rakyat Indonesia. Perjuangan kaum buruh di Indonesia dalam penghapusan system kerja outsorcing, kontrak dan menolak upah murah sebenarnya sudah bertahun-tahun dilakukan oleh gerakan buruh di Indonesia meski dengan daya juang dan skala yang berbeda dengan kondisi perjuangan hari ini. Inilah yang patut dijadikan pelajaran penting yakni persatuan dan ikatan senasib dan setindasan diantara kaum buruh di seluruh Indonesia meski berbeda-beda bendera namun hakekatnya dapat dilihat dalam kesamaan tuntutannya.

Sementara itu pemogokan nasional hari ini adalah yang terbesar dalam sejarah politik modern di tanah air pasca tahun 1965. Istimewanya peristiwa kebangkitan massa buruh di Indonesia kali ini juga bertepatan dengan sekaratnya jantung kapitalisme internasional dalam 4 tahun terakhir. Artinya dengan gelombang pemogokan nasional kaum buruh di Indonesia dan ribuan perlawanan rakyat di seluruh penjuru dunia, semakin menjadi mimpi buruk dan tindakan yang bersifat penghancuran terhadap penyelamatan sistem kapitalisme.

Kepanikan demi kepanikan kelas pemodal menghadapi cara kaum buruh dalam berjuang yang tampil dalam bentuk mogok sekaligus aksi massa hampir sejuta buruh di Indonesia, direspon serius oleh Kartel Pengusaha Indonesia yang tergabung dalam APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) lewat ketuanya Sofyan Wanandi (3/10) yang berkata; Sebenarnya tiga tuntutan kaum buruh semestinya bisa diselesaikan di tingkat tripartit, tanpa melalui aksi mogok nasional yang menganggu iklim Investasi di Indonesia, ditambahkan dia lagi bahwa masalah outsourcing ini semata-mata karena kelemahan pengawasan (www.kabar24.com 3 Oktober 2012) .

Lebih terang lagi saat lembaga kapitalis internasional yang kerap menjerat dengan hutang dan mendesakkan program program rezim pro modal untuk penghancuran sekaligus memiskinkan Jutaan tenaga produktif di Indonesia, seperti ADB (Asia Development Bank/Bank Pembangunan Asia) yang memerikan peringatan dengan tegas kepada rezim SBY agar tidak menghapus sistem outsourcing di Indonesia, karena sistem outsourcing sangat berguna demi penghematan perusahaan (Detik Finance, 3 Oktober 2012).

Jika Peringatan ADB kepada rezim SBY beserta seluruh porpol yang ada di DPR-RI (Parlemen nasional) agar tidak menghapus sistem kerja outsourcing disetujui oleh rezim SBY yang pro modal maka sesungguhnya menegaskan kepada seluruh kaum buruh dan seluruh massa rakyat, bahwa kekuasaan Rezim SBY – Boediono dan seluruh politisi pro modal di Parlemen nasional itu berdiri tegak selama lebih hampir 2 periode dengan menghisap hasil kerja kaum buruh, menikmati upeti politik dari perusahaan-perusahaan outsourcing tanpa memperdulikan akibatnya yakni merosotnya tingkat kesehjateraan jutaan buruh indonesia sekarang dan di masa yang akan datang. Sehingga terbayang bagaimana kedepan nasib para penerus negeri ini yang mungkin kualitas dan kesehjateraan hidupnya tidak sebaik mungkin lebih parah dari generasi sekarang.

Inilah yang harus diketahui bahwa sesunguhnya gerakan buruh dalam melawan politik upah murah, sistem kerja kontrak dan outsourcing, memang bukan semata-mata perjuangan normatif namun ini sudah berbenturan langsung dengan kehendak penyelamatan krisis kapitalisme oleh para pemodal sehingga bentuk perjuangan dalam aksi mogok nasional ini bagi kaum buruh memang sudah pantas disebut sebagai perjuangan kelas terhadap kaum kapitalis sekaligus perjuangan politik terhadap rezim SBY yang pro modal dan anti terhadap kesehjateraan kaum buruh dan seluruh massa rakyat Indonesia.

Ketakutan-ketakutan para pengusaha direspon dengan baik oleh Petingi tentara dan polisi untuk mengerahkan pasukanya dengan kedok pengamanan obyek-obyek vital milik pengusaha namun juga bisa berfungsi lainya yakni menjadi pemukul rakyat yang sedang berjuang mendapatkan hak-hak dasar yang harusnya melekat pada diri semua kaum buruh, Fenomena bukan sekali dua kali terjadi namun sangat tampak disaat gejolak perjuangan buruh di berbagai kawasan Industri Jababeka, Ejip, Hyunday dan tentu daerah lainya yang ditandai dengan hadirnya patroli pasukan organic bersenjata lengkap dari unsur tentara maupun brimob kepolisian.

Alhasil bukan tanpa kemenangan dan capaian kongkrit dari periode pemogokan nasional kaum buruh 3 Oktober 2012 dan sekali lagi itu dihasilkan dari desakan kuat gelombang mogok kaum buruh di Bekasi lewat Walikota Bersepakat sepenuhnya terhadap tuntutan kaum buruh yakni: menghapus outsourcing dan kerja kontrak, menolak upah murah dengan mengeluarkan surat resmi Pemkot Bekasi kepada Presiden dan DPR RI. Ditempat yang terpisah Gubernur Jawa Barat menyepakati 1 tuntutan kaum buruh yakni soal moratorium outsourcing dengan mengeluarkan SK kepada Bupati dan Walikota di Provinsi ini. Sejarah perjuangan kelas yang ditampilkan kaum buruh pada mogok nasional 1 hari pada 3 Oktober 2012 menunjukkan dua kepentingan kelas yang tidak dapat didamaikan dan sudah barang tentu kobaran api perjuangan kelas buruh di Indonesia tidak akan bisa diredam oleh kekuatan reaksioner manapun.

Muhamad Isnur, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan LBH Jakarta menyebutkan, Pasal 137 Undang-Undang 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa mogok kerja adalah sebagai hak dasar pekerja/buruh. Pasal 143 menegaskan, siapa pun tidak dapat menghalang-halangi pekerja/buruh dan serikat pekerja/buruh untuk menggunakan hak mogok kerja yang dilakukan secara sah, tertib, dan damai. Pemerintah dan perusahaan tidak boleh melarang apalagi melakukan penangkapan, kekerasan serta mengurangi hak pekerja/buruh yang mogok kerja. LBH Jakarta siap membantu dan mendampingi buruh/pekerja yang mendapatkan permasalahan dalam melaksanakan haknya untuk melakukan mogok kerja.

Masa Depan Papua: Kebudayaan, Sosial, Ekonomi dan Politik.

Tanah Papua sangat kaya, tembaga dan emas merupakan sumber daya alam yang sangat berlimpah yang terdapat di Papua. Papua terkenal dengan produksi emasnya yang terbesar di dunia dan berbagai tambang dan kekayaan alam yang begitu berlimpah. Papua juga disebut-sebut sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Papua merupakan surga keanekaragaman hayati yang tersisa di bumi saat ini. Pada tahun 2006 diberitakan suatu tim survei yang terdiri dari penjelajah Amerika, Indonesia dan Australia mengadakan peninjauan di sebagian daerah pegunungan Foja Propinsi Papua Indonesia.[1] Di sana mereka menemukan suatu tempat ajaib yang mereka namakan “dunia yang hilang”,dan “Taman Firdaus di bumi”, dengan menyaksikan puluhan jenis burung, kupu-kupu, katak dan tumbuhan yang belum pernah tercatat dalam sejarah. Bumi Papua atau Bumi Cenderawasih memang subur dan kaya mulai kekayaan bahari, kebudayaan, emas, tembaga dan mineral lainnya.  Provinsi Papua yang terletak di ujung timur negara Indonesia memiliki banyak kebudayaan yang unik dan menarik,  seperti alat musik tradisionalnya, tarian tradisional, rumah tradisional, pakaian dan kesenian lainnya yang terdapat di Papua. Namun kehidupan masyarakat papua tidaklah sekaya potensi alam dan kebudayaan yang mereka miliki. Jika dikelola dengan baik, mungkin orang Papua pun bisa lebih makmur dengan kekayan alam yang melimpah tersebut.

Papua hadir dalam sejarah Indonesia sejak 1 mei 1963, sejak sejarah bergabungnya tanah papua kedalam NKRI, daerah ini terus mengalami guncangan dan pertumpahan darah. Banyak solusi yang telah diajukan dan dicoba untuk dilaksanakan oleh pemerintah maupun lembaga lainnya. Tetapi masalah yang dialami masyarakat papua bukan terurai dan terselesaikan melainkan menjadi lebih kompleks. Minimnya koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah Papua yang disebabkan oleh perbedaan cara pandang, pemerintah pusat didominasi oleh kebijakan yang sentralistis yang dinilai pemerintah papua tidak menguntungkan bagi mereka. Pemerintah pusat senantiasa mengedepankan kebijakan nasional yang bertujuan untuk menjaga integrasi wilayah NKRI. Namun pandangan dan realisasi tersebut tidak sesuai. Pemerintah pusat melakukan penetrasi kekuasaan terlampau jauh terhadap daerah-daerah, sementara telah ada otonomi daerah dan otonomi khusus bagi provinsi Papua. Dalam penetrasi kekuasaan tersebut Nampak seolah-olah pemerintah pusat ingin menguasai setiap jengkal tanah papua. Sehingga masyarakat asli merasa dirinya sebagai tamu yang tersingkir ditanah kelahirannya sendiri.

Eksploitasi kekayaan alam papua oleh pemerintah dengan alasan yang tidak masuk diakal. Misalnya saja, Freeport adalah lahan sangat empuk bagi segelintir pejabat, para jenderal dan juga para politisi busuk negeri ini, yang menikmati hidup bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Para petinggi Freeport sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebagai suatu daerah yang bergabung kedalam Republik Indonesia setelah delapan belas tahun Indonesia merdeka yang tidak memiliki komunikasi yang cukup intensif dengan daerah-daerah lain, maka sangat wajar bila masyarakat papua menjadi suatu daerah yang terisolir dan tertinggal. Minimnya komunikasi anatara pemerintah pusat dan masyarakat Papua disebakan oleh dua hal, pertama, pemerintah beranggapan bahwa komunikasi dan dialog dengan masyarakat papua tidak penting, sebab pemerintah pusat menilai masyarakat Papua tidak memiliki kebudayaan. Hal yang dianggap penting oleh pemerintah pusat adalah bagaimana membuat masyarakat Papua diajari mengenai “adat” dan kebudayaan baru kemudian setelah mereka beradat dan beradab barulah akan diadakan komunikasi. Padahal menurut pandangan antropologi, setiap suku bangsa di dunia pasti memiliki kebudayaan yang mewarnai atau menjadi referensi berfikir bagi kelompok suku bangsa tersebut. Oleh karena itu perlu adanya pengakuan atas kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Papua. Komunikasi dengan masyarakat Papua sangat penting sebagai sarana transformasi sekaligus articulasi aspirasi dan keinginan rakyat. Proses komunikasi yang berbasis pada aspek kebudayaan lokal maka akan lebih efektif untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh mereka. Kedua, pemerintah pusat menganggap komunikasi dapat menjadi factor penghambat dalam pengambilan keputusan. Hal itu tercermin dari sikap pemerintah yang menolak dialog dengan masyarakat Pupua. Penolakan pemerintah disebabkan oleh rasa khawatir bahwa apabila rakyat berada dalam forum dialog mereka menyampaikan aspirasi merdeka.[2]

Dilihat dari segi budaya, budaya yang dimiliki Papua saat ini memang masih tertinggal. Tertinggal disini berarti mereka masih tergolong masyarakat tradisonal. Dengan budaya primitif yang mereka lakukan setiap hari, dimana dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar rakyat Papua masih beraktifitas secara tradisional. Menurut saya ini bukanlah suatu kesalahan penuh dari pemerintah saja. Tetapi karena sulitnya merubah budaya asli Papua yang sudah tertanam kuat dalam masyarakat Papua. Keterbelakangan mereka mungkin disebabkan karena sejarah Papua sendiri. Papua berbeda dengan Jawa, sejak ratusan tahun lalu Jawa telah terjajah oleh bangsa asing yang pastinya membawa budaya modern Eropa mereka. Sedangkan Papua yang terletak diujung timur Indonesia baru 1900-an dimasuki bangsa Belanda, dimana pada tahun yang sama Jawa telah dijajah bangsa Belanda satu abad lebih. Disini bangsa Jawa selama seabad lebih itu telah berinteraksi dengan bangsa asing dan budaya modern mereka. Selama bertahun-tahun mereka telah berinteraksi dan menerima budaya modern dan hal itu sangat berpenagruh pada masyarakat saat ini yang lebih bisa menerima budaya-budaya baru yang modern. Sedangkan di bumi Papua masyarakatnya baru mulai mengenal bangsa asing dengan budaya modernnya baru tahun 1900-an. Dengan waktu yang singkat ini sangat mungkin mereka tidak semudah masyarakat Jawa dalam penerimaan budaya modern. Kita dapat lihat keadaan Papua sekarang ini.

Menurut saya budaya Papua tidaklah perlu dirubah menjadi budaya yang modern, namun perlu adanya penambahan budaya yang lebih modern tanpa mengganggu proses dinamika budaya Papua. Perlunya mempertahankan budaya lokal ini bertujuan agar kekhasan Papua tetap terjaga dan tidak hilang begitu saja seperti budaya-budaya lokal Indonesia lain yang tertelan gelombang modernisasi. Budaya Papua janganlah sampai punah, dimana kita dapat memanfaatkan budaya lokal yang unik ini sebagai lahan dollar pemerintah dan masyarakat Papua. Dengan pengembangan potensi wisata Papua dari segi budaya Papua yang unuk dan eksotik itu. Ini bisa menjadi pilihan alternatif pengembangan kesejahteraan penduduk Papua yang sebagian besar masih banyak berada di bawah garis kemiskinan.

Ada beberapa gagasan yang ingin saya paparkan sebagai alternatif solusi dalam pembangunan Papua kedepannya, pertama saya menyarankan agar dibuat master plan pembangun Papua baik pembangunan jarak pendek maupu pembangunan jangka panjang secara keterbutuahan Papua. Kedua saya lebih menyoroti pada pengembangan Papua sebagai sebuah wilayah yang modern tanpa meninggalkan budaya Papua secara persuasif. Sedangakan yang ketiga menigkatkan kesejahteraan masyarakat Papua dengan memanfaatkan SDA Papua yang kaya.

Mengenai pembangunan jangka pendek dan jangka panjang, saya berpendapat bahwa penyusunan draft rencana pembangun  tersebut jangan hanya menggunakan para ahli-ahli saja. Namun penyusuna tersebut perlu juga kiranya melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dari tiap kabupataen/kota di Papua. Tentunya para tokoh-tokoh masyarakat itu lebih tau kebutuhan dan keinginan masyarakat Papua. Mekanisme perumusannya ialah dari setiap tokoh di kabupaten/kota yang telah menampung aspirasi rakyat berkumpul dalam sebuah forum bersama bebrapa ahli untuk merumuskan pokok-pokok rumusan pembangunan dari kabupaten/kota tersebut. Setelah pokok-pokok rumusan dari kabupaten/kota tersebut tercapai maka perwakilan tokoh masyarakat dari tiap kabupaten/kota melakukan pertemuan dalam sebuah forum tingkat provinsi bersma ahli-ahli untuk merumuskan pokok-pokok pembangunan Papua. Dari hasil forum tingkat provinsi yang telah disepakati kemudian diajukan ke pemerintah pusat untuk digodok ulang dan disempurkan. Kenapa harus pemerintah pusat yang mengurusi, dikarenakan saya beranggapan pemerintah daerah Papua belum profesional dalam menjalankan pemerintahan yang berkerakyatan. Dimana pemerintah daerah banyak menganggurkan uang dari pemerintah pusat yang jumalahnya tidak sedikit. Hendaknya mereka memanfaatkan dana yang melimpah itu, bukannya menmbungakan uang tersebut di bank.

Membangun Papua menjadi modern tanpa meniggalkan budaya lokalnya mungkin terlihat cukup sulit dilakukan. Namun bila ada kemauan dari seluruh stakeholder maka hal itu bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Saya memiliki gagasan bahwa perlu adanya penelitian yang dilakukan pemerintah mengenai budaya dan beberapa hal dari Papua. Ini penting dalam pemebentukan konsep modernisasi Papua tanpa menghilangkan budaya lokal. Penelitian ini menurut saya hendaknya dilakukan oleh beberapa ahli antropologi, budaya, soisologi, geografi, sejarah, kedokteran, psikologi, pendidikan, dan beberapa ahli yang berhubungan. Hasil penelitian dari gabungan ahli-ahli itu dapat menjadi bahan perencanaan modernisasi Papua tanpa menghilangkan budaya lokal. Ini sangat penting mengingat kondisi Papua tentunya sangat berbeda dengan wilayah Indonesia yang lain, sehingga perlu dilakukan kajian secara mendalam.

Mengenai penigkatan kesejahteraan masyarakat dengan SDA Papua sangatlah mungkin dilakukan. Mengingat SDA Papua yang melimpah dan masih banyak yang belum diberdayakan secara maksimal. Mungkin sedikit hambatan dalam penyuluhan kepada masyarakat karena terbatsnya pendidikan masyarakat Papua. Namun hal itu dapat diatasi bila dalam penyuluhan mengenai pemanfaatan SDA itu dilakukan menggunakan adat istiadat dari setiap wilayah, serta melibatkan tokoh masyarakat setempat. Penyuluhan ini mungkin akan cukup berhasil, mengingat masyarakat Papua masih sangat mengahargai para tokoh masyarakat mereka. Perlu komunikasi intens antara pemerintah dengan para tokoh masyarakat agar tokoh masyarakat tersebut bersedia mengkomunikasikan program pemerintah tersebut.

Dari keseluruhan pemaparan solusi alternatif itu saya beranggapan bila program-program itu dijalankan dengan baik oleh semua pihak yang terkait, tidak ada kata mustahil tanah Papua akan menjadi sebuah daerah yang makmur selayaknya di Jawa. Dukungan materil dan non-materil dari pemerintah sangatlah diperlukan dalam susksesnya suatu program pembangunan. Dari pihak masyarakat sendiri juga diperlukan dalam hal dukungan dan pengawasan demi terlaksananya suatu program pembangunan yang sesuai dengan target.

Peran para sosiolog dalam pembangunan Papua sanagtlah besar. Mereka dapat nmemberikan sumbangsih dalam berbagai hal. Sosiologi sebenarnya sangat diperlukan dalam proses pembangunan Papua. Pemerintah hendaknya menggandeng para Soisolog untuk membantu pemerintah dalam penyusuna rencana pembangunan di Papua. Lebih baik lagi jika pemerintah memfasilitasi para Sosiolog Indonesia untuk melakukan penelitian di Papua. Penelitian ini tidak hanya di pedalaman Papua saja, namun hendaknya dilakukan di kota-kota juga. Dimana nantinya dapat dikethui perilaku dari penduduk Papua secara keseluruhan. Jadi dalam menentukan suatu kebijakan nantinya pemerintah tidak salah sasaran dan lebih solutif.

DAFTAR PUSTAKA

Arge, Rahman. 2008. 200 Pilihan Permainan Kekuasaan. Jakarta: Kompas Media             Nusantara.

da Ir , Ans Gregory. 2008. Dari Papua meneropong Indonesia: darah mengalir di             bumi Cendrawasih: catatan dan pikiran seorang wartawan. Jakarta:        Grasindo.

Drooglever, P.J. 2010. Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri (penerjemah: Jan Riberu). Yogjakarta: Kanisius.

Kambu, Robert Menase. 2010. Jayapura Kota di Ujung Timur: Spesifik, Eksotik,    Unik & Menarik. Jakarta: Indomedia Global.

Manangsang, Jhon. 2007. Papua Sebuah Fakta dan Tragedi Anak Bangsa,             Pergumulan: Etika, Moral, Hukum, Sosial, Budaya, Kedokteran, SDM dan         Kemanusiaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Maniagasi, Frans. 2001. Masa Depan Papua: Merdeka, Otonomi Khusus dan         dialog. Jakarta: Millenium Publisher.

Widjojo, Muridan S, dkk. 2009. Papua Road Map: Negotiating the Post,    Improving the Present and Securing the future. Jakarta: Yayasan Obor             Indonesia.

Yuniarti, Fandri dan Verdiansyah, Chris (ed). 2007. Ekspedisi Tanah Papua:         Laporan Jurnalistik KOMPAS. Jakarta: Kompas Media Nusantara.


[1] Yuniarti, Fandri dan Verdiansyah, Chris (ed). 2007. Ekspedisi Tanah Papua: Laporan Jurnalistik KOMPAS. Jakarta: Kompas Media Nusantara. Hlm 5

[2] Maniagasi, Frans. 2001. Masa Depan Papua: Merdeka, Otonomi Khusus dan dialog. Jakarta: Millenium Publisher. Hlm 124.

Refleksi Pembangunan Kota Blitar

Posted Friday, March 29th, 2013

Sosiologi Pembangunan

Refleksi Pembangunan Kota Blitar

Kota Blitar merupakan sebuah kota yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah selatan Surabaya. Secara geografis, Kota Blitar terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur, berada di kaki Gunung Kelud dengan ketinggian 156 meter dari permukaan laut, dan bersuhu udara rata-rata cukup sejuk antara 24°-34° C. Wilayah Kota Blitar dibagi menjadi 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Sukorejo dengan luas 9,93 km2, Kecamatan Kepanjenkidul 10,50 km2, Kecamatan Sananwetan 12,15 km2. Dari tiga Kecamatan tersebut, habis terbagi menjadi 21 Kelurahan.

Blitar disebut sebagai Kota Patria, kota ini juga disebut sebagai Kota PETA (Pembela Tanah Air) karena di bawah kepimpinanan Suprijadi, Laskar PETA melakukan perlawanan terhadap Jepang untuk pertama kalinya pada tanggal 14 Februari 1945 yang menginspirasi timbulnya perlawanan menuju kemerdekaan di daerah lain.

Berdasarkan hasil registrasi penduduk, jumlah penduduk Kota Blitar pada tahun 2010 meningkat sebesar 0,79 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jika tahun 2009 hasil coklit penduduknya sebesar 139.471 jiwa, maka pada tahun 2010 sebesar 140.574 jiwa. Jumlah tersebut merupakan jumlah terkecil kedua di Jawa Timur.

Kota Blitar memiliki luas yang tidak lebih dari 33 km persegi, dengan luas itu kota Blitar merupakn kota terkecil di Jawa Timur[1]. Meskipun kota Blitar adalah kota yang kecil, namun nama Blitar sangat terkenal di nusantara bahkan di dunia internasional. Hal itu dikarenakan nama besar Bung Karno, sang proklamator yang hidupnya berawal dan berakhir di Kota ini. Kota Blitar terkenal sebagai tempat kelahiran dan dimakamkannya presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Makam sang proklamator hingga kini menjadi icon wisata sejarah yang sangat menjajikan bagi kota Blitar dan masyarakatnya. Ratusan orang bergantung pada keberadaan makam ini, mulai dari pedagang aksesoris khas blitar, makanan, tukang parkir, jasa penginapan, tukang becak dan masih banyak yang lainnya.

Tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang tersedia secara optimal. Dalam upaya untuk mencapai tujuan pembangunan, pemerintah kota Blitar menetapkan tujuh prioritas pembangunan yang mencakup seluruh dimensi kehidupan masyarakat[2]. Pembangunan ekonomi diprioritaskan pada pengembangan ekonomi lokal, pemberdayaan pelaku ekonomi mikro, terutama pengusaha kecil dan menengah sebagai prasyarat perwujudan kota Blitar sebagai kota perdagangan dan jasa. Pembangunan dan pertumbuhan kota Blitar bergantung pada sektor pariwisata dan jasa.

Dalam proses pembangunan di Kota Blitar dapat dikatakan berhasil. Indeks Pembangunan Manusia kota Blitar menempati posisi pertama selama lima tahun terakhir di wilayah propvinsi Jawa Timur. Hal itu bisa dilihat dalam pencapaian indicator sasaran yang telah ditetapkan.[3] Tingkat capaian indikator sasaran itulah yang dapat dijadikan ukuran keberhasilan atau juga ukuran kegagalan dari rangkaian proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah. Keberhasilan dalam proses pembangunan tidak terlepas dari keberadaan SDM sebagai subjek dan objek pembangunan. Di kota Blitar pembangunan SDM tidak ditempatkan trepisah yang mempunyai sistem dan mekanisme sendiri, melainkan terintegrasi dalam rangkaian pembangunan yang komprehensif. Konsepnya meliputi tiga upaya dasar yaitu, Pertama adalah mengupayakan setiap warga masyarakat hidup sehat. Hal itu diwujudkan Pemkot melalui upaya penambahan jumlah sarana kesehatan bagi masyarakat. Pada tahun 2011 sarana kesehatan yang tersedia dan beroprasi di Kota Blitar sebanyak 5 unit Rumah Sakit Umum, 2 Rumah Sakit Bersalin, 3 puskesmas yang tersebar di 3 Kecamatan yang ada di Kota Blitar. Dalam kegiatan operasionalnya dibantu oleh 17 Puskesmas pembantu, dan 162 posyandu yang tersebar disetiap kelurahan. Dengan dukungan sarana kesehatan yang memadai tingkat kesehatan masyarakat secara umum terus mengalami peningkatan. Hal itu bisa dilihat dari angka kematian bayi yang rendah yaitu 20 per 1000, angka kematian bayi di Kota Blitar adalah yang terendah di Jawa Timur. Kemudian pada tahun 2011 angka harapan hidup penduduk kota Blitar mencapai 72,51 tahun dan hal itu adalah angka harapan hidup yang tertinggi di Jawa Timur.

Kedua, mengupayakan setiap warganya berpendidikan. Pendidikan adalah salah satu modal utama dari kemajuan suatu bangsa. Demi mewujudkan generasi penerus bangsa yang berkualitas mutlak dibutuhkan pendidikan yang berkualitas pula. Untuk itu Pemkot terus berusaha menyediakan sarana pendidikan yang berkualitas. Pada tahun 2011 di Kota Blitar terdapat 73 SD, 30 SLTP, 22 SLTA dan 8 Perguruan Tinggi. Dengan rasio tenaga pengajar 1:17 artinya setiap 1 tenaga pengajar menangani 17 murid. Hasilnya hanya 3% saja anak usia sekolah yang tidak bersekolah.

Ketiga, mengupayakan setiap warga masyarakatnya dapat memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi yang layak. Upaya pemenuhan kebutuhan sosial dan ekonomi yang layak dimulai dari pembangunan berkelanjutan yang merupakan wujud kerjasama antara masyarakat sebagai pelaku utama dan pemerintah sebagai pengawas serta pembuat kebijakan yang mendukung kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat.[4] Ada berbagai macam pemahaman mengenai pembangunan berkelanjutan. Secara umum pembangunan berkelanjutan merupakan perubahan positif sosial dan ekonomi dengan tidak mengabaikan lingkungan tempat manusia hidup di dalamnya. Dengan kata lain terjadinya keseimbangan pembangunan dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Sistem perekonomian Kota Blitar menggunakan sistem ekonomi mikro untuk menggerakan perekonomian kota dengan menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama perekonomian.[5] Bentuk dukungan pemerintah kota ini antara lain penyediaan lokasi dan tenda untuk pedagang kaki lima. Selain itu pemerintah kota juga membatasi calon investor yang akan membangun mal, swalayan besar dsb, dengan tujuan untuk tetap menghidupkan aktivitas perdagangan masyarakat setempat. Namun, di beberapa wilayah sejak berdirinya hypermart atau sejenisnya, banyak masyarakat lebih memilih untuk berbelanja di hypermart dengan faktor kelengkapan dan kenyamanan. Hal ini mengakibatkan penurunan pendapatan bagi pedagang kaki lima dan para pedagang di pasar tradisional. Kondisi ini merupakan suatu ancaman bagi para pedagang kecil, bahkan dapat mematikan usaha mereka. Sehingga Pemerintah Kota Blitar menetapkan pembatasan terhadap investor, akan tetapi batasan penetrasi investor hanya berlaku untuk mendirikan hypermart dan pewara laba saja. Hal itu dilatarbelakangi oleh keiniginan peningkatan perekonomian, Blitar membutuhkan calon investor yang menanamkan modalnya di kota ini dalam rangka meningkatkan dan menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi.

Kota Patria yang menyimpan banyak sejarah dan melahirkan pemimpin bangsa tentunya tidak hanya sekedar cerita, julukan, atau sejarah yang cukup dikenang saja. Tonggak sejarah tersebut dapat dijadikan sebagai titik awal dan pemicu pembangunan Kota Blitar yang lebih baik dan berkelanjutan. Sebagai tempat wisata sejarah maka di blitar lahirlah sentra-sentara industry kerajinan ataupun makanan Kontribusi sector industry sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi Kota Blitar. Pada tahun 2011 terdapat 2.011 unit produksi di kota ini dengan nilai produksi sebesar 381 miliyar rupiah. Dengan banyaknya unit produksi maka hal itu berbanding lurus dengan terserapanya tenaga kerja. Pada tahun 2011 penyerapan tenaga kerja di Kota Blitar mencapai 95% sedangkan jumlah pengangguran sebanyak 4,20%.[6] Menurunnya jumlah pengangguran maka akan berakibat pada turunya angka kemiskinan dan tujuan utama pembangunan yaitu kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.

Kota Blitar memiliki banyak tempat wisata antara lain Makam Bung Karno, Water Park Sumber Udel, Istana Gebang, Museum dan Perpustakaan Bung Karno, dan masih banyak yang lainnya. Tempat-tempat wisata itu yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan domestic maupun mancanegara. Dengan banyaknya tempat wisata yang mempunyai prospek yang bagus, telah mendorong para investor untuk menanamkan modal terutama di bidang jasa khususnya di bidang perhotelan. Hingga saat ini di Kota Blitar terdapat 16 Hotel dan 3 penginapan.

Tingkat Kesejahteraan masyarakat Kota Blitar berada pada tingkat yang cukup tinggi. Hal itu bisa dilihat dari rendahnya tingkat pengangguran yaitu sebesar 4,20%, maka lebih dari 95% masyarakat Kota Blitar telah terserap ke dalam lapangan pekerjaan. Salah satu cirri dari semakin meningkatnya kondisi ekonomi adalah presentasi pengeluaran untuk non makanan lebih besar dari presentasi pengeluaran untuk makanan. Pengeluaran penduduk Kota Blitar untuk non makanan mencapai 55,73%, hal ini artinya tingkat ekonomi masyarakat semakin baik. Kemudian sekitar 45% masyarakat Kota Blitar memiliki pengeluaran perkapita lebih dari 500 ribu rupiah setiap bulannya.[7] Tingkat kesejahteraan masyarakat juga dapat dilihat dari keadaan hunian atau tempat tinggal rata-rata masyarakat Kota Blitar. Di Kota Blitar hanya 0,42% kondisi rumah yang tidak layak huni, seperti kondisi lantainya yang masih berupa tanah, dinding terbuat dari bambu dan belum memiliki fasilitas MCK yang memadai.

Secara umum pembangunan di Kota Blitar setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Mulai dari pembangunan manusianya maupun pembangunan infrastruktur yang mendukung meningkatnya kualitas masyarakatnya. Pembanguan dan pertumbuhan Kota Blitar sangat tregantung pada bidang pariwisata,perdagangan dan jasa yang digerakkan oleh pengusaha kecil dan menengah. Pemerintah Kota memberikan pembatasan penanaman modal oleh investor dari luar kota, hal ini bertujuan untuk memberikan lahan dan kesempatan usaha bagi masyarakat asli Kota Blitar. Namun, pembatasan tersebut tidak bersifat mutlak karena pemerintah kota menilai penanaman modal oleh investor dari luar kota memiliki fungsi sebagai penggerak perekonomian Kota Blitar.

Keberhasilan pembangunan juga dapat dilihat dari pencapaian tujuan dari pembangunan yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat Kota Blitar dapat dikatakan cukup baik. Pengeluaran perkapita masyarakat lebih dari 500.000 per bulan. Kemudian, tingkat penyerapan kerja adalah 95% dengan demikian kurang dari 5% penduduk kota Blitar yang tidak memiliki pekerjaan. Tingkat kesejahteraan masyarakat juga dapat dilihat dari keadaan hunian atau tempat tinggal rata-rata masyarakat Kota Blitar. Di Kota Blitar hanya 0,42% kondisi rumah yang tidak layak huni, seperti kondisi lantainya yang masih berupa tanah, dinding terbuat dari bamboudan belum memiliki fasilitas MCK yang memadai.

Daftar Pustaka

Bps dan Bappeda Kota Blitar. 2011. Kota Blitar Dalam Angka 2011. Blitar. Bps   Kota Blitar.

BPS dan BAPPEDA Kota Blitar. 2010. Indikator Makro Ekonomi dan Indeks      Pembangunan Manusia Kota Blitar Tahun 2009. Blitar.

BPS dan BAPPEDA Kota Blitar. 2011. Indikator Makro Ekonomi dan Indeks      Pembangunan Manusia Kota Blitar Tahun 2010. Blitar. BPS.

BPS Kota Blitar. 2012. Statistik Daerah Kota Blitar Tahun 2012. Blitar. BPS Kota            Blitar.

BPS. 2012. Statistik Daerah Kota Blitar Tahun 2012. Blitar. BPS Kota Blitar.

J, Didik. 2002. Ekonomi Politik: Paradigma dan Teori Pilihan Publik. Jakarta.         Ghalia Indonesia

Suryana. 2000. Ekonomi Pembangunan: Problematikan dan Pendekatan. Jakarta.   Salemba Empat.


[1] BPS Kota Blitar. 2012. Statistik Daerah Kota Blitar Tahun 2012. Blitar. BPS Kota Blitar. Hlm 6

[2] BPS dan BAPPEDA. 2011. Indikator Makro Ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia Kota Blitar Tahun 2010. Blitar. BPS. Hlm 1

[3] BPS dan BAPPEDA. 2010. Indikator Makro Ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia Kota Blitar Tahun 2009. Blitar. BPS. Hlm 2

[4] J, Didik. 2002. Ekonomi Politik: Paradigma dan Teori Pilihan Publik. Jakarta. Ghalia Indonesi. Hlm 9

[5] Suryana. 2000. Ekonomi Pembangunan: Problematikan dan Pendekatan. Jakarta. Salemba Empat. Hlm 30

[6] BPS. 2012. Statistik Daerah Kota Blitar Tahun 2012. Blitar. BPS Kota Blitar. Hlm 13

[7] Bps dan Bappeda Kota Blitar. 2011. Kota Blitar Dalam Angka 2011. Blitar. Bps Kota Blitar. Hlm 98

Statistik Sosial 1 Korelasi Spearmant

Posted Friday, March 29th, 2013

KORELASI SPEARMAN

Korelasi rank Spearman adalah sebuah metode yang diperlukan untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variabel dimana dua variabel itu tidak mempunyai joint normal distribution dan conditional variance-nya tidak diketahui sama. Korelasi rank ditemukan oleh Spearman, sehingga disebut sebagai korelasi Spearman. Korelasi ini dapat juga disebut sebagai korelasi bertingkat, korelasi berjenjang, korelasi berurutan, atau korelasi berpangkat. Korelasi rank dipergunakan apabila pengukuran kuantitatif secara eksak tidak mungkin atau sulit dilakukan. Dalam mengukur koefisien korelasinya, disyaratkan bahwa pengukuran kedua variabelnya sekurang-kurangnya dalam skala ordinal sehingga individu-individu yang diamati dapat diberi jenjang dalam dua rangkaian berurutan. Dalam analisis ini, hipotesis nihil yang akan diuji mengatakan bahwa dua variabel yang diteliti dengan nilai jenjangnya itu independen ; artinya bahwa tidak ada hubungan antara jenjang variabel yang satu dengan jenjang dari variabel lainnya. Pengujian dapat didasarkan pada sampel kecil ataupun sampel besar (apabila n ≥ 10).

Korelasi rank dipakai apabila :

  1. Kedua variabel yang akan dikorelasikan itu mempunyai tingkatan data ordinal
  2. Jumlah anggota sampel dibawah 30 (sampel kecil)
  3. Data tersebut memang diubah dari interval ke ordinal
  4. Data interval tersebut ternyata tidak berdistribusi normal

Besarnya hubungan antara dua variabel atau derajat hubungan yang mengukur korelasi berpangkat disebut koefisien korelasi berpangkat atau koefisien korelasi Spearman yang dinyatakan dengan lambang rs. Korelasi rank berguna untuk mendapatkan :

  1. Kuatnya hubungan dua buah data ordinal
  2. Derajat kesesuaian dari dua penilai terhadap kelompok yang sama
  3. Validitas konkuren alat pengumpul data
  4. Reliabilitas alat pengumpul data setelah dikembangkan bersama-sama dengan William Brown, sehingga disebut dengan Korelasi Spearman-Brown dengan lambang rii.

Korelasi Spearman (rho) digunakan untuk melihat kuat-lemahnya hubungan dan arah hubungan antara dua variable, menguji hipotesis hubungan antara dua variable. Langkah – langkahnya adalah :

  1. Berikan peringkat pada nilai-nilai variabel x dari 1 sampai n. Jika terdapat angka-angka sama, peringkat yang diberikan adalah peringkat rata-rata dari angka-angka yang sama.
  2. Berikan peringkat pada nilai-nilai variabel y dari 1 sampai n. Jika terdapat angka-angka sama, peringkat yang diberikan adalah peringkat rata-rata dari angka-angka yang sama.
  3. Hitung di untuk tiap-tiap sampel (di=peringkat xi – peringkat yi)
  4. Kuadratkan masing-masing di dan jumlahkan semua di2
  5. Hitung Koefisien Korelasi Rank Spearman (ρ)à baca rho:

rs = 1- ­­   6 ∑d2

n(n2-1)

6. Bila terdapat angka-angka sama. Nilai-nilai pengamatan dengan angka sama    diberi ranking rata-rata.

Keterangan :

rs : Korelasi rho

– n : Jumlah kasus atau sampel

– d : Selisih ranking antara variabel X dan Y untuk tiap subyek

– 1 & 6 : Angka constant

Contoh:

Beberapa siswa di SMA Tujuh Enam mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah dengan tujuan meningkatkan prestasi akademik di sekolah. Orang tua siswa ingin mengetahui apakah ada hubungan antara prestasi akademik di tempat bimbingan belajar dengan prestasi akademik  di sekolah. Setelah mengikuti ujian akhir di sekolah hasilnya didapat dalam data sebagai berikut :

Nama Siswa Peringkat Prestasi di Bimbingan Belajar

(x)

Peringkat Prestasi di Sekolah

(y)

Perbedaan Peringkat (d)

(x-y)

d2
Januar 40 (2) 57 (4) -2 4
Febrian 116 (8) 65 (6) 2 4
Martha 113 (6) 88 (9) -3 9
April 115 (7) 86 (8) -1 1
Mei 83 (3) 56 (3) 0 0
Junita 85 (4) 62 (5) -1 1
Julia 126 (10) 92 (10) 0 0
Agus 106 (5) 54 (2) 3 9
Septa 117 (9) 81 (7) 2 4
Okta 4 (1) 4 (1) 0 0
∑d = 0 ∑d2 = 32

penghitungannya :

= 1 –     ­­   6 (32)

10 (102-1)

= 1- 192 : 990

= 1- 0.19

= 0.81

Daftar Pustaka

Djarwanto Ps. SE. 2001. Mengenal Beberapa Uji Statistik Dalam Penelitian. Yogyakarta : Liberti Yogyakarta.

Usman, Husaini dan Setiady Akbar, R. Purnomo. 2003. Pengantar Statistika. Jakarta : Bumi Aksara.

Sosialisasi, Interaksi Sosial, Struktur Sosial

Posted Friday, March 29th, 2013

STRUKTUR SOSIAL

Sosialisasi, Interaksi Sosial, Struktur Sosial

Berawal dari pendapat beberapa ahli yang mengatakan bahwa :

Bulan mempengaruhi pasang surut air laut. Para ahli mempercayai walaupun belum ada bukti yang menunjukkan pernyataan tersebut. Planet juga mempengaruhi iklim, medan magnet yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Posisi planet dan matahari dapat mempengaruhi kepribadian manusia ada juga para ahli yang mengaitkan manusia dengan biologi. Gen menentukan nasib orang tersebut. Posisi planet (rasi bintang) mempengaruhi sifat seseorang.

Sementara sosiolog tidak percaya dengan astrologi yang mempengaruhi sifat seseorang. Menurut sosiolog kepribadian seseorang  dipengaruhi  oleh alam , faktor – faktor biologi yang mungkin menentukan. Menurut sosiolog, kepribadian manusia dipengaruhi lingkungan sosial dan struktur sosialnya.

Sebagai contoh adalah bayi. Bayi yang ketika lahir masih belum dapat melakukan sesuatu. Kemudian orang tuanya dengan teliti mengajarinya, mendidiknya, mengasuhnya agar dapat tumbuh dengan baik dan dapat bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya.

Jadi, kepribadian, sifat dan tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.

Struktur sosial, interaksi sosial dan sosialisasi

Di bagian 5 telah di buat perbedaan antara struktur sosial dengan tatanan sosial. Struktur sosial adalah kebudayaan berdasarkan dari hubungan sosial sedangkan tatanan sosial adalah interaksi sosial yang mana terjadi ketika orang saling mempengaruhi satu sama lain. Interaksi sosial berdasarkan pandangan adalah resep yang sangat penting untuk sosiolog.

Kemudian pertanyaan muncul bagaimana anggota struktur sosial mengembangkan persepsi cara mereka di harapkan untuk bersikap terhadap orang lain dalam konteks posisi sosial yang dimana mereka adalah anggota nya ?

Sejak isi dan struktur dari kebudayaan tidak menjadi bagian dari biologi ,manusia mulai belajar tentang kebudayaan dan bagian-bagian dalam struktur sosial melalui beberapa proses sosial. Sosiolog menyebutnya sebagai proses sosial hal ini melalui proses sosial seseorang cukup belajar untuk menjadi padu ke dalam macam-macam struktur sosial. Jika seorang manusia hidup di masyarakat tanpa pengetahuan dari budaya dan struktur sosial ,berarti mereka juga lahir tanpa kesadaran dari dirinya sendiri tentang perbedaan. Kemudian sosialisasi merupakan cara dimana proses mengembangkan konsep dalam diri manusia.

Sosialisasi dibagi menjadi 2 bagian, pertama mengembangkan konsep pada anak menurut dirinya sendiri menjadi seseorang yang dapat ditafsirkan melalui cara dimana mereka diperlakukan dan ditanggapi oleh orang lain. Walaupun hal ini tidak cukup sederhana, jika mereka diperlakukan sebagai disukai orang lain yang pendapatnya mereka nilai maka mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang menyenangkan.

Kedua, mereka mendidik anak- anak untuk lebih di kembangkan sosial dirinya dengan bertindak keluar dalam bermain dan dalam permainan tersebut terdapat bermacam-macam peran dan status sosial.

Sosialisasi berperan penting bagi manusia sebagai dasar hidup bermasyarakat, dan proses sosialisasi itu  berlangsung secara terus menerus dalam kehidupan . Misal, Wakil presiden baru , murid baru dan penerimaan tentara harus belajar bagaimana caranya bersosialisasi sesuai dengan nilai, norma ,sikap dan prilaku yang harus diserap setiap kali seseorang memasuki suatu struktur sosial baru, kemudian proses berulang dari waktu dia bermain untuk pertama kalinya sampai dia masuk pada masa tuanya atau pada saat dia mulai kehidupan dengan anaknya.

Hal yang harus diperhatikan dari proses sosialisasi adalah interaksi sosial , yang merupakan bagian yang berlangsung sejak awal kehidupan manusia dilakukan intensif dan berkelanjutan. Hal ini harus bergerak keluar fisik yang memperhatikan emosi termasuk dukungan dan stimulasi mental. Mengatakan cara lain bahwa manusia adalah binatang sosial .

Kepribadian Sosial Manusia

Sosialisasi Tidak  Sempurna

Sosialisasi manusia adalah gabungan dari unsur biologis dan budaya sosial. Kebanyakan ilmu sosiologi memberikan unsur biologis alamiah dari manusia dan menekankan pada kepentingan pengalaman sosial dalam pengembangan individu dan integrasi sosial. Sosialisasi tidak sempurna dapat terjadi pada diri seseorang individu karena ia gagal mengidentifikasi diri agar pola perilakunya sesuai dengan kaidah – kaidah atau norma dan nilai sosial yang berkembang dan berlaku didalam masyarakat. Sosialisasi tidak sempurna disebabkan pula karena adanya isolasi sosial. Selain itu sosialisasi tidak sempurna juga dapat terjadi karena cacat bawaan, gangguan mental, dsb. Dapat dicontohkan dalam sebuah kasus sebagai berikut :

  1. ANNA

Anna merupakan anak haram kedua yang lahir dari ibunya. Mereka tinggal bersama kakek anna, tetapi karena mereka kakek anna malu atas keberadaan mereka, maka kakek anna mengusir anna dan ibunya keluar dari rumah. Setelah beberapa bulan mereka terus berpindah dari tempat satu ke tempat lain, tetapi tidak ada yang mau mengadopsi anna, maka pada saat anna berusia lima setengah bulan, maka ibu anna memutuskan kembali ke rumah kakek anna. Pada saat itu ibu anna sangat takut kakek anna marah ketika melihat anna, maka anna diletakkan di loteng pada rumah perkebunan kakek anna. Sementara di sana, anna hanya diberi sedikit perhatian dari ibunya hingga ia berusia 5 tahun. Dia hidup dengan kondisi sangat kurus, kekurangan gizi, perut mengembung dan kakinya seperti tulang belulang karena sangat kurus.  Anna tidak pernah berpindah dari posisi satu ke posisi lain dalam waktu yang lama dengan kondisi tempat tidur yang sangat kotor. Perhatian adalah hal yang asing baginya. Pada saat ditemukan pada usia 5 tahun, anna tidak menunjukkan tanda tanda kecerdasan, dan dia juga tidak dapat berjalan.

Setelah satu setengah tahun ditemukan, anna menunjukkan kemajuan ketika ia mulai bisa belajar berjalan, memahami perintah yang sederhana, makan sendiri, memperhatiakan penampilannya, dan mulai bisa mengingat orang yang pernah anna lihat. Her speech was that of a one year old. Anna kemudian dipindahkan ke sebuah sekolah untuk anak-anak terbelakang di mana dia membuat beberapa kemajuan, meskipun pada usia tujuh usia mentalnya adalah seperti anak usia 19 bulan, dan tingkat kematangan sosialnya seperti anak berusia 2 tahun. Setahun kemudian dia bisa memantulkan dan menangkap bola dia juga berpartisipasi dalam kegiatan sebuah kelompok, makan secara normal (meskipun hanya bisa menggunakan sendok), memenuhi kebutuhan toiletnya, dan memakai baju sendiri. Secara signifikan anna mulai bisa berkomunikasi.

Anna juga telah bisa menunjukkan kemajuan tambahan. Dia bisa melaksanakan perintah, mengetahui warna warna, cuci tangan, sikat gigi, dan membantu teman-temannya. Mengembangkan kapasitas emosinya dengan menunjukkan kecintaannya kepada suatu boneka.

Apakah kekurangan anna tentang pengembangan pribadi dan sosial adalah karena kekurangan di bidang biologis dan karena isolasi yang berkepanjangan?  Anna bisa saja cacat mental sejak awal dikarenakan kondisi tersebut. Ibunya misalnya, ketika diuji tingkat IQ nya dibawah normal yaitu hanya 50 saja. Apakah anna itu menderita defisiensi mental saat lahir, fisik, keterampilan pribadi, dan sosial ia dikembangkan dalam beberapa tahun antara waktu dia ditemukan dan saat kematiannya berada adalah suatu kesaksian kepada bentuk interaksi sosial untuk pengembangan dasar karakteristik umumnya dianggap hanya “alami manusia”.  Kasus Isabelle bahkan lebih dramatis lagi untuk mendukung kesimpulan ini.

  1. Isabelle

Isabelle ditemukan 9 bulan setalah anna, dia juga merupakan seorang anak haram yang diisolasi karena takut adanya penolakan sosial. Ibu Isabella adalah seorang bisu tuli sejak usia dua tahun, dia tinggal bersama anaknya di ruang gelap terpencil dari peninggalan keluarganya. Saat ditemukan pada usia enam setengah tahun, isabelle secara fisik sakit sebagai akibat dari kekurangan makan dan kurangnya sinar matahari. Kakinya begitu membungkuk, dan dia tidak bisa berjalan dengan sempurna. Dia tidak dapat berbicara kecuali mengeluarkan suara parau yang aneh, dan isabelle berkomunikasi dengan ibunya melalui gerakan. Setelah melihat orang asing, terutama pria, dia bertindak seperti binatang liar karena takut dan menganggap mereka adalah musuhnya. Tindakannya seperti bayi yang berusia 6 tahun.

Terlepas dari semua itu, sabelle juga mempunyai pikiran yang sangat lemah, bahkan test Iqnya hampir mendekati nol, kematangan tingkat sosialnya seperti anak usia 2 tahun dan kemudian dia mengikuti program rehabilitasi. Setelah permulaan yang lambat, isabelle berkembang melalui tahap belajar dan pengembangan seperti anak normal maju dari usia satu sampai enam. Pada saat ia berusia delapan setengah, pendidikan isabelle dapat disetarakan dengan anak lain seusianya. Dia terlihat cerdas, bahagia, anak energik. Pada usia 14, ia lulus dari kelas 6 dan, menurut guru-gurunya, dia selalu berpartisipasi dalam semua kegiatan sekolah senormal anak-anak lain di kelasnya.

Implikasi dari kedua kasus adalah jelas pengembangan pribadi dan sosial yang terkait dengan manusia yang diperoleh melalui kontak sosial yang intensif dan berkepanjangan dengan orang lain. Kasus isolasi sosial ekstrim tidak satu-satunya bukti mendukung generasi ini. Anak-anak mungkin berakibat negatif ketika tingkat interaksi sosialnya hanya terbatas.

Diri ,Sosialisasi dan Interaksi Simbolik

Sosialisasi merupakan proses dimana seseorang belajar budaya dan stuktur sosial, yang menjadikan mereka bisa siap dalam kehidupan sosial. Ini adalah suatu proses menjadi manusia. Intinya sosialisasi adalah pembentukan diri, pembentukan konsep yang dimiliki oleh dirinya masing – masing. Saat mereka lahir, mereka tidak punya konsep diri tersebut, melalui  interaksi sosial dengan membuat aturan – aturan dari dalam diri mereka masing- masing oleh interprestasi personal dari sikap dan kebiasaan orang lain padanya.

Ini terlihat dari beberapa mahasiswa sosiologi ingin mengetes prinsip – prinsip bahwa konsep diri seseorang adalah menganggap dari bagaimana dia membayangkan, dia memunculkan dirinya pada orang lain. Sebagai subjek yang tidak dapat diketahui untuk bahan belajar, mereka memilih wanita yang sesuai  waktu atau zamannya yang berlaku saat itu, tidak memperhatikan  beberapa laki – laki, cara berpakaian, rambut kusut , tanpa make up , baju tidak rapi, membuat sebagai target yang sempurna mahasiswa yang ingin melihat jika daya tarik mereka akan mengubah sikap pada wanita tersebut,mereka membanjirinya dengan permintaan untuk kencan , memujinya cantik dan secara terbuka bersaing untuk mendapatkannya. Dia merespon sesuai apa yang diperkirakan. Perlahan dia mulai berganti kebiasaan dalam penampilan sampai dia menemukan standar feminitas pada saat itu. Kemudian Elisa Doolittle merubah table pada kelompok Professor Higginses. Akhirnya dia menolak semua perubahan yang terjadi karena dia gagal untuk bertemu standar baru dari daya tarik laki – laki.

Dari semua hal tersebut, psikologi social tertarik pada bagaimana seseorang menjadi manusia, membentuk kapasitas untuk membentuk sebuah partisipasi dalam stuktur sosial , pelayanan dan lain – lain. Dalam pembentukan dan pengaturan dari sebuah konsep diri . Satu penjelasan tentang proses ini. Sebuah teori dari interaksi simbolis, telah secara khusus terpengaruh dalam lingkaran sosiologi. Interaksi Simbolis menegaskan atas kemunculan dari pikiran dan stuktur social melalui interaksi social berdasarkan symbol – symbol  yang di mengerti bersama khususnya system symbol yang diketahui sebagai bahasa.

Looking-glass self

Menekankan bahwa keberadaan seseorang berkembang berdasarkan interaksi dan persepsi orang lain. Kita bertumbuh menurut apa yang orang lain (significant other) persepsikan mengenai diri kita. Kalau orang lain berpikir kita membanggakan, maka begitulah jadinya. Sebaliknya, seseorang juga cenderung percaya pada persepsi orang yang  mengatakan bahwa kita memalukan, maka demikianlah kita. Konsep ini disebut “looking-glass” karena diri seseorang merupakan pencerminan dari penilaian orang lain, tidak ubahnya cermin yang kita lihat di gelas.

Ada tiga tahap mengenai  looking-glass proses, yaitu sebuah makna yang muncul kepada orang lain, penilaian terhadap makna yang muncul tadi, dan kemudian proses evaluasi diri. Dalam prakteknya proses ini berlangsung begitu cepat tanpa orang lain menyadarinya.

Belajar  berpartisipasi dalam struktur sosial dan mengembangkan jati diri tidak perlu harus ikut serta aktif dalam sebuah kelompok. Reference group adalah kelompok sosial yang dijadikan acuan oleh individu-individu yang tidak tercatat dalam anggota kelompok tersebut untuk mengembangkan kepribadiannya atau dalam berprilaku. Misal seorang anak SMA mungkin saja meniru tingkah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Anak tersebut tidak harus menjadi mahasiswa dulu untuk mencontoh tingkah seorang mahasiswa.

Mind, Self, dan Interaksi Sosial

Penafsiran manusia sebagai makhluk biologis yang penuh tantangan   dominan saat ini. Dipengaruhi oleh ide Colley bahwa manusia adalah produk dari proses sosial yang jelas dalam artian dapat dilihat. Namun George Hebert Mead menghubungkan antara diri, pikiran, dan struktur sosial adalah kesatuan asli dari interaksi simbolik.

Dalam teori interaksi simbolik Mead secara tidak langsung menunjukkan sebagai pusat bahasa. Orang-orang menerima dan meneruskan simbol, simbol disini tidak memiliki hubungan yang intrinsik hal ini karena terdapat pemahaman yang sama. Melalui pengambilalihan bahasa, simbol yang jelas atau signifikan menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari manusia. Dalam sekali belajar, baik psikis maupun verbal simbol yang digunakan dalam interaksi sosial memiliki pemahaman yang sama untuk semua partisipan. Itu merupakan fakta paling krusial dari interaksi sosial akibat sosialisasi manusia. Sebagaimana yang telah dibahas dalam bagian 2, interaksi sosial adalah pertukaran dari pengaruh aktivitas sosial, dimana tindakan sosial seseorang memengaruhi orang lain. Penerima  pertama  akan meneruskan kepada orang lain dan berlaku seterusnya. Singkatnya dalam mencerna pesan, interaksi sosial harus berdasar pada pemahaman yang sama dari simbol yang ada.

Sebagai bahasa yang dipelajari. Dua hal perbedaan yang vital dikembangkan berdasarkan jiwa dan diri. Interaksi sosial berdasar pada tanda- tanda “natural”  seperti suara dan expresi wajah, menyiapkan anak untuk belajar bahasa. Sebelum belajar sebuah bahasa pengetahuan, anak-anak diberi   pemahaman yang psikis dan tingkah laku yang keluar dari jalur kemampuannya untuk verbal mereka. Anak muda juga belajar untuk mengontrol responnya terhadap peristiwa dan objek sebelum dia bisa melakukan itu. Ketika seorang anak bisa meniru dan memahami kata panas, bakar, dan sakit dia dapat berpikir untuk menghindar dari perasaan tersebut tanpa berpikir panjang perasaan itu terjadi begitu saja. Kemampuan berpikir reflek simbolik merupakan perkembangan dari sebuah pikiran. Dan sebagai  pemikir  hal abstrak mengenai pribadi seseorang,  tingkah laku seseorang, dan tingkah laku yang lain menuju pada pribadi, eksistensi dari diri besifat tampak.

Mengambil peran, diri, dan struktur sosial

Dengan hanya sebuah repertoar kecil dari simbol-simbol signifikan yang diperoleh melalui tahap-tahap awal belajar bahasa, anak mampu melakukan pembicaraan internal. Ia mengatakan sesuatu terhadap dirinya dan merespon secara internal untuk itu. Walaupun dengan kapasitas yang sedikit, ini memungkinkan untuk mengantisipasi tanggapan orang lain. Baik anak ataupun orang dewasa dapat membayangkan apa yang ada dalam pikiran, perasaan, dan perilakunya sendiri yang kemungkinan berasal dari orang lain. Proses ini mengasumsikan pengamatan yang berasal dari orang lain dengan memposisikan dirimu sebagai orang tsb dan kemudian merespon tindakan yang dilakukan orang lain itu sama seperti apa yang kamu pikirkan tentang orang tersebut, dalam kasus ini Mead menyebutnya sebagai konsep pengambilan peran. Ketika di aplikasikan pada konsep diri, Mead’s role taking sama dengan Cooley’s looking glass self process. Tapi Mead melampaui Cooley untuk menjelaskan bagaimana kapasitas untuk mengambil peran dan pengembangan diri.

Menurut Mead, diri dan fasilitas pengambil peran muncul dari dua tahap proses. Tahap pertama, tahap permainan, terjadi pada awal-awal hidup, ketika  anak-anak meniru tingkah laku dari orang lain. Sekitar usia tiga atau empat, kita bisa mengamati asumsi anak-anak mengenai posisi dan peran ketika mereka berasosiasi. Sehingga dalam waktu singkat seorang anak mungkin bisa berperan menjadi ibu, ayah, supir, truk, atau koboy. Dalam setiap instansi anak bermain, memerlukan urusan yang serius dalam belajar untuk membawa dirinya pada posisi menjadi orang lain dan berperilaku sebagai dia yang akan datang.

  1. Jelaskan hubungan antara kepribadian, sosialisasi dan kebudayaan!
  2. Menurut Anda bagaimana pengaruh warisan biologikal seseorang terhadap proses sosialisasi?
  3. Anak yang terjebak dalam narkotika, pergaulan bebas, apakah itu karena dia tidak bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya? Atau ada faktor lain? Coba jelaskan!
  4. Ada istilah agen sosialisasi, agen sosialisasi itu sendiri merupakan elemen yang mendukung jalannya proses sosialisasi, menurut Anda, agen sosialisasi mana yang paling berperan dalam mendukung proses sosialisasi ? Jelaskan beserta alasan!
  5. Sejak masa kanak-kanak, kita belajar mengembangkan kemampuan diri (mengevaluasi diri, memotivasi diri, mengendalikan diri), bagaimana bila kenyataannya  masa kanak-kanak pada jaman sekarang justru direnggut dengan mencari nafkah, apakah saat dewasa nanti sosialisasi dan pengendalian diri mereka akan berlangsung baik untuk orang sekitar dan dirinya sendiri?

Perubahan Sosial

Posted Friday, March 29th, 2013
  1. Pengertian Perubahan Sosial

Pada dasarnya masyarakat pasti akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat diketahui dengan cara membandingkan keadaan masyarakat pada masa atau periode tertentu dengan keadaan masyarakat pada masa lampau (masa sebelumnya). Perubahan yang terjadi pada masyarakat pada dasarnya adalah proses terus-menerus, karena masyarakat bersifat dinamis. Di dalam masyarakat satu dengan masyarakat lainnya perubahan tidak terjadi secara bersamaan, karena setiap masyarakat ada yang mengalami perubahan secara cepat dan lambat, karena disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi.

Perubahan sosial dapat disimpulkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat yang mencakup perubahan dalam aspek-aspek struktur pada masyarakat, ataupun perubahan karena terjadinya perubahan dari faktor lingkungan, karena berubahnya komposisi penduduk, keadaan geografis, maupun karena berubahnya system hubungan sosial.

  1. Teori Perubahan Sosial

Teori Linier atau Teori Perkembangan

Perubahan sosial budaya bersifat linier atau berkembang menuju titik tertentu, dapat direncanakan atau diarahkan, bahwa setiap masyarakat berkembang melaui tahapan yang pasti.

Teori Linier dibedakan menjadi:

  • Teori evolusi

Perubahan sosial budaya berlangsung sangat lambat dalam jangka waktu lama. Perubahan sosial budaya dari masyarakat primitif, tardisional dan bersahaja menuju masyarakat modern yang kompleks dan maju secara bertahap.

  • Teori Revolusi

Perubahan sosial menurut teori revolusi adalah perubahan sosial budaya berlangsung secara drastic atau cepat yang mengarah pada sendi utama kehidupan masyarakat (termasuk kembaga kemasyarakatan). Karl Marx berpendapat bahwa masyarakat berkembang secara linier dan bersifat revolusioner, dari yang bercorak feodal lalu berubah revolusioner menjadi masyarakat kapitalis kemudian berubah menjadi masyarakat sosialis – komunis yang merupakan puncak perkembangan masyarakat

Suatu revolusi dapat berlangsung dengan didahului suatu pemberontakan (revolt rebellion). Adapun syarat revolusi adalah :

ada keinginan umum mengadakan suatu perubahan

adanya kelompok yang dianggap mampu memimpin masyarakat

pemimpin harus mampu manampung keinginan masyarakat

pemimpin menunjukkan suatu tujuan yang konkret dan dapat dilihat masyarakat

adanya momentum untuk revolusi

Teori Fungsional

Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. seperti para pendahulunya, Parsons juga menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi.

Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan.

Bahasan tentang struktural fungsional Parsons ini akan diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsu adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu:

Adaptasi, sebuah sistem harus mampu menanggulangu situasi eksternal yang gawat. Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.

Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.

Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.

Teori struktural fungsional mengansumsikan bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dari sistem. Fokus utama dari berbagai pemikir teori fungsionalisme adalah untuk mendefinisikan kegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup sistem sosial. Terdapat beberapa bagian dari sistem sosial yang perlu dijadikan fokus perhatian, antara lain ; faktor individu, proses sosialisasi, sistem ekonomi, pembagian kerja dan nilai atau norma yang berlaku.

Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial.

Teori Konflik

Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.

Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran Karl Marx. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional.

Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar.  Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.

Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan. Kemudian teori konflik juga melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan.

Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.

Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Oleh karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Terdapat dua tokoh sosiologi modern yang berorientasi serta menjadi dasar pemikiran pada teori konflik, yaitu Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf.

Perbedaan Antara Teori Fungsional dan Teori Konflik :

PERSEPSI TENTANG TEORI  FUNGSIONAL TEORI KONFLIK
MASYARAKAT Suatu system yang stabil  dari kelompok-kelompok yang bekerja sama Suatu system yang tidak stabil  dari kelompok-kelompok dan kelas-kelas yang saling bertentangan
KELAS SOSIAL Suatu tingkat status dari orang-orang yang memperoleh pendapatan dan memiliki gaya hidup yang serupa. Berkembang dari isi perasaan orang dan kelompok yang berbeda. Sekelompok orang yang memiliki kepentingan ekonomi dan kebutuhan  kekuasaan yang serupa . Berkembang dari keberhasilan sebagian orang dalam mengeksploitasi orang lain
PERBEDAAN SOSIAL Tidak dapat dihindarkan dalam susunan masyarakat yang kompleks. Terutama disebabkan perbedaan kontribusi dari kelompok-kelompok yang berbeda Tidak perlu dan tidak adil. Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan. Dapat dihindarkan dengan jalan penyusunan kembali masyarakat secara sosialistis
PERUBAHAN SOSIAL Timbul  dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus berubah Diapaksakan oleh suatu kelas terhadap kelas lainnya untuk kepentingan kelas pemaksa
TATA TERTIB SOSIAL Hasil usaha tidak sadar dari orang-orang untuk mengorganisasi kegiatan –kegiatan mereka secara produktif Dihasilkan dan dipertahankan oleh pemkasa yang terorganisasi oleh kelas-kelas yang dominan.
NILAI-NILAI Konsensus atas nilai-nilai umum dan kesetiaan yang mempersatukan masyarakat Menanamkan nilai-nilai dan kesetiaan yan melindungi golongan yang mendapat hak-hak istimewa
LEMBAGA-LEMBAGA SOSIAL Menanamkan nilai-nilai umum dan kesetiaan yang mempersatukan masyarakat Menanamkan nilai-nilai dan kesetiaan yang melindungi golongan yang mendapat hak-hak istimewa.
HUKUM DAN PEMERINTAHAN Menjalankan peraturan yang mencerminkan consensus nilai-nilai masyarakat. Menjalankan peraturan yang dipaksakan oleh kelas yang dominan untuk melindungi hak-hak istimewa
  1. C. Proses Perubahan Sosial

Perubahan sosial terjadi pada setiap masyarakat. Bagaimanakah proses terjadinya perubahan sosial? Perubahan sosial dapat terjadi melalui penemuan dan difusi.

Invention

Invensi yaitu proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan sehingga ide- ide atau penemuan- penemuan baru tersebut dapat diakui, diterima dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, pada proses penciptaan pesawat terbang oleh Orville dan Wilbur mereka menggabungkan beberapa konsep-konsep dengan cara menempatkannya dengan bersamaan, sehingga akhirnya terciptalah pesawat terbang.

Difusi

Difusi ialah proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam system social. Pengkajian difusi adalah telaah tentang pesan-pesan yang berupa gasasan baru, sedangkan pengkajian komunikasi meliputi telaah terhadap semua bentuk pesan. Difusi bukanlah sebuah bentuk pesan biasa, namun pesan yang disampaikan adalah sebuah ide baru yang mempunyai pengaruh yang besar dalam sebuah system social. Dalam hal menyampaikan pesan serta ide baru perlu memperhatikan aspek waktu dalam mengambil sebuah keputusan.

Dengan demikian difusi dapat dikatakan sebagai “ proses persebaran dari unsure-unsur kebudayaan dari seseorang ( individu ) ke individu yang lain, dari individu yang lain, dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain.”

Proses yang tersebut pertama ialah persebaran dari individu ke individu yang lain didalam batas satu masyarakat disebut difusi intra masyarakat atau intra-diffusion, dan proses yang kedua ialah, persebaran dari masyarakat ke masyarakat disebut difusi inter masyarakat atau inter diffusion.

Proses persebaran berlangsung baik didalam masyarakat, dan diantara masyarakat-masyarakat. Misalnya, Jaz adalah musik orsinil diantara musisi berkulit hitam di New Orleans, dan menjadi tersebar ke kelompok lain didalam masyarakat itu, hingga akhirnya ia tersebar ke masyarakat lain, dan bahkan kini telah menyebar menjadi peradaban dunia. Difusi berlangsung kapan saja masyarakat mengadakan kontak. Proses difusi selalu melalui dua arah.

Difusi unsur budaya tidak mengambil bentuk adopsi yang sepenuhnya. Hal ini dapat dicontohkan Negara Jepang yang bisa menerima kapitalisme dan menguasai elemen lainnya tanpa terpengaruh bentuk kepemerintahan Amerika, gaya keperbisnisan dan struktur sosialnya.

Sebagian besar unsur struktur sosial yang diadopsi tidak terbentuk dari awal. Namun yang menjadi kekuatan vital dalam mengubah struktur sosial yang kompleks tersebut adalah terciptanya suatu penemuan baru.

Sebagai kesimpulan bahwa dalam menciptakan perubahan social tentunya perlu pengkajian beberapa factor yang dapat menjadi bahan referensi untuk mengambil sebuah tindakan. Dan yang menjadi hal awal dalam mengeluarkan ide baru kemudian nantinya akan dikomunikasikan (difusi) adalah pemahaman tentang keadaan dan latar belakang suatu wilayah yang mempunyai tradisi dan kebudayaan yang berbeda dengan kita.

Globalisasi

Posted Friday, March 29th, 2013

by:  Juwita Anggraini

Globalisasi

Ketika awal kelahiran dan keberadaan negara, negara dibangun dari ide-ide mendasar mengenai bagaimana sebuah negara mejadi suatu bentuk pengayoman kepada rakyatnya. Sekarang konsep negara telah berubah dari sebagai pengayom rakyatnya  menjadi “centeng”, menjadi pelindung bayaran dari sekelompok kecil saudagar nasional maupun global. Negara menyediakan jasa keamanan bagi para saudagar karena dari hal inilah negara mendapatkan uang untuk menjalankan pemerintahan. Saat ini negara mengalami penurunan fungsi bahkan Kenichi Ohmae menyatakan bahwa negara adalah batu peninggalan abad ke 18 da 19 yang sekarang telah berakhir yang artinya negara sudah tidak lagi di anggap penting. Pada tahun 1980-an kehadiran negara dianggap sebagai suatu masalah oleh para penganut neo-liberal. Mereka menganggap bahwa semua masalah ekonomi berawal dari adanya negara. Pandangan seperti ini mendapat dukungan dari para pendukung fanatic globalisasi. Menurut mereka, dunia akan lebih sejahtera dan makmur dengan adanya pasar bebas dan perdagangan bebas. Perdagangan bebas menuntut agar negara-negara membuka pasar mereka selebar-lebarnya untuk perdagangan. Semakin negara tidak menghalangi arus ekspor-impor maka konsumen di setiap negara akan menikmati keuntungan.

Dalam era globalisasi segalanya menjadi mudah, hanya butuh beberapa detik untuk memindahkan uang dari negara satau ke negara lainnya. Hal itu disebabkan oleh kemajuan tekhnologi dan komunikasi yang mendukung orang melakukan pemindahan uang dalam jumlah yang besar tanpa melalui prosedur administrasi yang panjang, murah dan hal itu cukup mudah karena dilakukannya dengan menggunakan telephon genggam. Saat ini uang tidak hanya menjadi alat tukar saja, tetapi juga sebagai barang dagangan yang diperjual belikan oleh pedagang valas.

Pasar mata uang hanyalah salah satu dari globalisasi ekonomi, selain itu ada penanaman modal asing. Penanaman modala asing mulai menjadi trend sekitar abad 19 yang berkembang hingga hari ini. Perusahaan-perusahaan mulai beroprasi melintasi batas terotorial negara. Pada tahun 1998 ada sekitar 53.000 perusahaan multinasional yang tersebar diseluruh dunia. Perusahaan-perusahaan multinasional sebagian besar berada di Amerika, Jepang dan Eropa dan dipasarkan ke negara-negara lain.

Ketika perkembangan perusahaan multinasional meningkat hal itu tidak terlepas dari pengaruh kemajuan tekhnologi di bidang komunikasi dan transportasi yang membuat perdagangan antar negara semakin mudah dan murah. Dalam mengembangkan perusahaannya, mereka akan memilih negara-negara berkembang seperti Indonesia, Cina, Vietnam, Myanmar, kamboja dll untuk membangun sebuah pabrik. Hal itu dilatarbelakangi oleh factor murahnya tenaga kerja, peraturan tentang buruh yang tidak ketat dan tidak adanya serikat buruh yang kuat. Dengan begitu perusahaan multinasional dapat berkembang pesat dengan biaya produksi yang rendah.

Globalisasi ekonomi tidak hanya berarti bahwa proses ekonomi menjadi global, tetapi juga masalah-masalah ekonomi menjadi global. Krisis ekonomi tidak hanya terjadi pada sebuah negara tetapi akan berdampak buruk pula pada negara lain, seperti krisis di Asia Timur dan Asia Tenggara tahun 1997. Selain itu juga terjadi korupsi global yang melibatkan aparat negara dengan perusahaan multinasional.

Globalisasi mula-mula disambut dengan antusias oleh negara-negara karena menjajikan kesejahteraan. Globalisasi dalam wujud perdagangan bebas dan investasi global diharapkan menjadi solusi bagi krisis ekonomi. Namun ternyata dalam perkembangannya globalisasi juga berdampak negative bagi perekonomian terutama karena adanya perusahaan multinasional. Perusahaan multinasional terdiri dari perusahaan minyak, obat-obatan, mobil, motor, dan bank. Mobilitas perusahaan ini sangat luar biasa, mereka berpindah kemana saja diseluruh dunia. Mobilitas yang tinggi ini menyebabkan haraga tawar terhadap perusahaan tersebut menjadi tinggi, negara yang dimana perusahaan tersebut berdiri sering kali tidak berdaya menghadapi tuntutan perusahaan karena apabila tidak dipenuhi maka mereka akan pindah dan negara akan kehilangan sumber pendapatan.

Dengan gambaran mengenai keterbukaan tentang segala hal di era globalisasi dapat disimpulkan bahwa sebenarnya globalisasi adalah alat yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk memperkaya diri dan menjadikan dirinya penguasa di pasar global. Sementara itu negera-negara berkembang tidak dapat beradaptasi dengan keadaan yang ada. Negara-negara berkembang hanya menjadi ladang untuk membangun perusahaan-perusaahaan multinasional, hal itu karena sumberdaya manusia dan penguasaan tehnologi tidak dimanfaatkan dengan baik.

Daftar Pustaka

Husain, Coen. 2003. Akhir Globalisasi: Dari Perdebatan Teori Menuju Gerakan Massa. Jakarta: C-BOOKS.

Wibowo, I. 2010. Negara Centeng: Negara dan Saudagar di Era Globalisasi. Yogyakarta: Kanisius.